Senin, 03 Februari 2014

Sekilas tentang Tidore dan Ternate

sekilas tentang tidore
SEJARAH KOTA TIDORE KEPULAUAN

Sejak puluhan abad kota tidore telah dikenal oleh bangsa barat dan timur tengah karena rempah-rempahnya, dimana pada tahun 1512 kota ini dipeributkan oleh bangsa-bangsa eropa dan menjadi korban politik devide et impera. Sejarah mencatat tidore merupakan salah satu bagian dari lintasan perdagangan jalur suterapada abad ke-7 masehi. Sejarah kota tidore diawali dengan terbentuknya moloku pada tahun 1257. f. s. a de cherco dalam bukunya “ bijdragen tot de kennis residentil” mengatakan bahwa ada 3 fase yang melatarbelakangi sejarah pemerintahan di maluku:
  1. Tahun 1257 – 1484 berdirinya kerajaan-kerajaan dengan kepala pemerintahan tertentu di tidore dan ternatae.
  2. Tahun 1484 – 1817, masuknya agama islam yang merupakan awal terbentuknya pemerintahan sementara inggris berakhir dan berahli dibawah kekuasaan kolonial belanda.

Pada tanggal 8 napember 1521 juan sebastian de el cano beserta awak kapal trinidad dan victoria merapat di tidore dalam pelayarannya mengelilingi dunia yang pertama. Sejarah itu diabadikan dengan dibangunnya tugu pendaftaran bangsa spanyol yang dibuat oleh kedutaan besar spanyol pada tanggal 30 maret 1993. koya tidore keplauan merupakan daerah otonom yang berada di propinsi maluku utara yang dimekarkan dari kabupaten halmahera tengah berdasarkan undang-undang republik indonesia nomor 1 tahun 2003 tanggal 31 mei 2003.


LETAK GEOGRAFIS DAN IKLIM
Kota tidore kepulauan berada pada 0º - 20 º lintang utara dengan posisi 127 º - 127,45 º bujur timur dengan luas wilayah 14.220,02 km² , terdiri dari luas daratan 9.816,16 km², (69,03%) dan luas lautan 4.403,85 km² (30, 97%). Wilayah kota tidore kepulauan terdiri dari gugusan pulau besar (bagian tengah pulau halmahera ), pulau tidore serta 10 pulau kecil yang mengelilinginya yaitu, pulau maitara, pulau mare, pulau wado, pulau raja, pulau joji, pulau guratu, pulau tamong, pulau tawang dan pulau sibu.
Kota tidore kepulaan beriklim tropis dengan tingkat curah hujan rata-rata 2.000 mm, dimana tipelogi iklim alpha sangat berpengaruh pada dua musim, yaitu musim kemarau terjadi pada bulan desember – maret, musim hujan terjadi pada bulan mei – oktober dan musim pancaroba terjadi pada bulan april – desember.

ADMINISTRATIF PEMERINTAHAN
Secara administratif kota tidore kepulauan terbagi atas lima kecamatan tidore, tidore selatan, tidore utara, oba utara dan oba selatan dengan 20 kelurahan dan 22 desa dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
• sebelah utara berbatasan dengan pulau ternate dan kabupaten halmahera barat
• sebelah timur berbatasan dengan kabupaten halmahera timur dan kabupaten halmahera tengah.
• Sebelah selatan berbatasan dengan kabuputen halmahera selatan.
• Sebelah barat berbatasan dengan perairan maluku utara.

DEMOGRAFI
Jumlah penduduk kota tidore kepulauan berdasar data tahun 2006 adalah sebanyak 85.655 jiwa terdiri dari laki-laki 42.880 jiwa (50,06%) dan perempuan 42.775 jiwa (49,94%) dengan kepadatan penduduk sebesar 48 jiwa /km dengan laju pertumbuhan sebesar 0,54% pertahun.
Adapun konsentrasi kepadatan penduduk kota tidore kepulauan adalah dipulau tidore sebesar 63, 65% dan pulau lainnya sebesar 36,35%. Komposisi penduduk di kota tidore kepulauan menurut lapangan usaha dan mata pencaharian masih didominasikan oleh sektor pertanian dalam arti luas mencakup tanaman pangan, perkebunan, perikanan,
peternakan dan kehutanan dengan jumlah sebesar 70,15%.

VISI
TERWUJUDNYA KOTA TIDORE KEPULAUAN YANG BERIMAN, MAJU, MANDIRI DAN BERPERADABAN
MISI
  1. Meningkatkan Kualitas Keberagamaan dilingkungan Masyarakat dan Pemerintahan
  2.  
  3. Meningkatkan Kualitas SDM melalui Pelayanan Pendidikan, Kesehatan, Pembinaan Aparatur Pemerintah Daerah, Pembinaan Keperempuanan, Kepemudaan dan Olahraga
  4. Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur Sosial, Ekonomi dan Pemerintahan Serta Pengembangan Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah KTK
  5. Meningkatkan Pembiayaan Pembagunan dengan Mengoptimalkan Pengelolaaan Sumber-Sumber Pendapatan Daerah dan Peningkatan Peranserta Kelompok Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
  6. Merevitalisasi Nilai-Nilai Adat se Atoran Beserta Kelembagaannya serta mewujudkan kehdiupan Masyarakat yang Aman, Damai, Harmonis dan Berkepribadian


Gambaran Umum

- Luas wilayah daratan 9.564,7 Km2 (69,03 %) & Lautan 4.293,2 Km 2 ( 30,47 % )
- Terdapat 11 pulau Kecil dan Besar
JUMLAH KELURAHAN/DESA DI KOTA TIDORE KEPULAUAN

- Kecamatan Tidore Terdiri dari 8 Kelurahan dan 2 Desa
- Kecamatan Tidore Selatan Terdiri dari 6 Kelurahan dan 2 Desa
- Kecamatan Tidore Utara Terdiri dari 6 Kelurahan dan 2 Desa
- Kecamatan Oba Terdiri dari 7 Desa
- Kecamatan Oba Utara Terdiri dari 8 Desa

Pertumbuhan Ekonomi Kota Tidore Kepulauan Periode 2004-2006
Pertumbuhan Ekonomi Kota Tidore Kepulauan dari Tahun 2004 adalah 5,71, Tahun 2005 naik menjadi 5,79 Persen sedangkan Tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 5,89 %

Gambaran Umum Kota Tidore Kepulauan

Kota Tidore Kepulauan merupakan daerah otonom hasil pemekaran wilayah Kabupaten Halmahera Tengah yang secara yuridis diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.
Wilayah Kota Tidore Kepulauan meliputi sebagian daratan pulau Halmahera pada bagian Barat dan gugus Pulau Tidore yang secara astronomis berada antara 0°47´20´´ LU – 0°0´12´´LS dan 127°18´15´´ – 127°49´20´´BT.  Berbatasan dengan 5 Kabupaten/Kota, yakni Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten Halmahera Selatan.  Dengan luas wilayah ±2.793,686 km2 yang terbagi atas daratan ±1.680,295 km2 (60,15%) dan laut ±1.113,391 km2 (39,85%) dengan panjang garis pantai ±219,75 km.
Wilayah administrasi pemerintahan Kota Tidore Kepulauan terbagi atas 8 kecamatan dan 72 kelurahan/desa, dimana sebanyak 52 kelurahan/desa merupakan desa pesisir.  

Tabel 1. Luas Wilayah Daratan Kota Tidore Kepulauan Per Kecamatan

No.
Kecamatan
Luas Wilayah
Jumlah Kel/ Desa
(km2)
(%)
Pesisir
Total
1
Tidore
21,814
1,30
7
11
2
Tidore Selatan
28,598
1,70
8
8
3
Tidore Utara
43,960
2,62
7
12
4
Tidore Timur
32,117
1,91
3
4
5
Oba Utara
237,609
14,14
9
12
6
Oba Tengah
705,841
42,01
4
9
7
Oba
377,619
22,47
9
9
8
Oba Selatan
232,737
13,85
5
7
Jumlah Total
1.680,295
100
52
72

Memiliki 11 buah pulau yang seluruhnya merupakan pulau-pulau kecil (Pulau Tidore, Maitara, Mare, Failonga, Sibu, Woda, Raja, Guratu, Tameng, Joji dan Taba).

Tabel 2. Luas dan Keliling Pulau-pulau Kecil di Kota Tidore Kepulauan
No.
Nama Pulau
Luas
Keliling (km)
Keterangan
km2
Ha
1
Tidore
117,602
11.760,2
47,782
Berpenghuni
2
Mare
6,037
603,7
12,414
Berpenghuni
3
Maitara
2,821
282,1
6,584
Berpenghuni
4
Failonga
0,008
0,8
0,363
Tidak berpenghuni
5
Sibu
0,073
7,3
1,179
Tidak berpenghuni
6
Woda
0,440
44,0
2,628
Tidak berpenghuni
7
Raja
0,188
18,8
1,926
Tidak berpenghuni
8
Guratu
0,198
19,8
1,732
Tidak berpenghuni
9
Tameng
0,381
38,1
2,742
Tidak berpenghuni
10
Joji
0,206
20,1
1,772
Tidak berpenghuni
11
Taba
0,299
29,9
2,419
Tidak berpenghuni
Sumber : Hasil digitasi peta

Iklim wilayah Kota Tidore Kepulauan tidak berbeda dengan iklim di daerah-daerah lainnya di Pulau Halmahera dan sekitarnya yaitu beriklim tropis, yang dipengaruhi oleh angin laut.  Iklim daerah ini sangat dipengaruhi oleh laut Halmahera, laut Seram dan laut Maluku (Bappeda, 2007). Musim angin yang terjadi sangat dipengaruhi oleh angin Barat dan angin Timur/Selatan dan diselingi oleh dua kali masa transisi atau musim pancaroba yang merupakan transisi antara musim Barat ke musim Timur.
Curah hujan yang terjadi sebesar 2.570 – 3.050 mm/tahun, sehingga daerah ini termasuk dalam tipe iklim A atau beriklim basah yang dalam klasifikasi agroklimat termasuk dalam klasifikasi zona E1 dimana bulan basah terjadi dalam 3 bulan per tahun, sedangkan bulan kering berlangsung kurang dari 2 bulan.
Suhu udara rata-rata wilayah Kota Tidore Kepulauan berkisar rata-rata maksimum 31,3°C dan rata-rata minimum 21,2°C, kelembaban rata-rata 83,5%, penyinaran matahari rata-rata 67,5% per tahun, dan tekanan udara rata-rata 1001,9 Bar.

Kependudukan
Jumlah penduduk Kota Tidore Kepulauan adalah 92.164 jiwa yang terbagi atas laki-laki 46.628 jiwa (50,59%) dan perempuan 45.536 jiwa (49,41%). Sebaran penduduk utamanya terkosentrasi di pulau Tidore yang merupakan pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian Kota Tidore Kepulauan.

Tabel 3.      Jumlah Penduduk Kota Tidore Kepulauan Per Kecamatan
No.
Kecamatan
Jml. Laki-laki (Jiwa)
Jml. Perempuan (Jiwa)
Jml. Total (Jiwa)
Persentase (%)
Jml. KK
1
Tidore
10.184
10.202
20.386
22,12
4.618
2
Tidore Utara
7.780
7.820
15.600
16,93
3.212
3
Tidore Selatan
7.068
7.256
14.324
15,54
3.157
4
Tidore Timur
3.827
3.650
7.477
8,11
1.749
5
Oba Utara
5.931
5.582
11.513
12,49
2.628
6
Oba Tengah
3.814
3.444
7.258
7,88
1.564
7
Oba
5.491
5.107
10.598
11,50
2.211
8
Oba Selatan
2.533
2.475
5.008
5,43
1.097
Jumlah
46.628
45.536
92.164
100
20.236
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tidore Kepulauan, 2008

Jumlah penduduk berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing beragama Islam (86.696 jiwa atau 94,07%), Kristen (4.120 jiwa atau 4,47%), Katolik (89 jiwa atau 0,097%), Hindu (7 jiwa atau 0,008%), Budha (5 jiwa atau 0,005%), Kong Hucu (1 jiwa atau 0,001%) dan penganut kepercayaan sebanyak 1.246 jiwa atau 1,352%.
Jumlah penduduk Kota Tidore Kepulauan berdasarkan pendidikan terbagi atas belum sekolah, tidak/belum tamat SD, tamatan SD, tamatan SLTP, tamatan SLTA, Diploma Dua, Diploma Tiga, Sarjana, Magister, dan Doktoral.
Penduduk Kota Tidore Kepulauan bekerja atau berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, Kepolisian, Pedagang, Petani Perkebunan, Peternak, Nelayan, Industri, Konstruksi, Transportasi, Karyawan Swasta, Karyawan BUMN/BUMD, Buruh, Tukang Batu/Kayu, Dosen, Guru, Dokter, Bidan, Perawat, Sopir, Wiraswasta, Pensiunan, Mengurus Rumah Tangga, Pelajar dan Mahasiswa, Belum bekerja dan lainnya.

Perekonomian
Sebagai salah satu indikator makro ekonomi, PDRB menunjukkan kemampuan sumberdaya ekonomi untuk menghasilkan suatu barang dan jasa di suatu wilayah. Berdasarkan data PDRB Kota Tidore Kepulauan yang bersumber dari BPS Kota Tidore Kepulauan menunjukkan bahwa nilai PDRB pada tahun 2007 atas dasar harga berlaku adalah 283.861,67 (juta rupiah). Angka tersebut mengalami peningkatan jika membandingkan dengan data PDRB atas harga dasar harga berlaku pada tahun 2005 sebesar 241.198,19 (juta rupiah) dan tahun 2006 sebesar  259.804,74 (juta rupiah). Persentase peningkatan dari tahun 2005 ke 2006 adalah 7,71% dan dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 8,49%.
Sementara nilai PDRB Kota Tidore Kepulauan tahun 2007 atas dasar harga konstan adalah  225.850,16 (juta rupiah) yang juga mengalami kenaikan dari dua tahun sebelumnya, yakni tahun 2005 sebesar  201.194,20 (juta rupiah) dan tahun 2006 sebesar 213.082,28 (juta rupiah). Dengan kata lain ada persentase kenaikan di tahun 2006 sebanyak 5,91% dan tahun 2007 sebanyak 5,99%. Adanya trend kenaikan nilai PDRB atas dasar harga konstan ini memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan produksi barang dan jasa di Kota Tidore Kepulauan.
Lebih dari separuh nilai PDRB Kota Tidore Kepulauan tahun 2007 atas dasar harga berlaku bersumber dari sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Pertanian, dengan nilai sebesar  144.779,74 (juta rupiah) atau 51% dari total PDRB di tahun tersebut. Sumbangan terbesar dari nilai tersebut bersumber dari subsektor perkebunan sebesar 63.931,73 (juta rupiah) atau 44,16%, disusul secara berturut-turut adalah subsektor tanaman bahan makanan sebesar 41.556,55 (juta rupiah) atau 28,70%, perikanan sebesar 23.030,59 (juta rupiah) atau 15,91%, kehutanan sebesar 13.202,01 (juta rupiah) atau 9,12% dan terkecil dari subsektor peternakan dan hasil-hasilnya yakni 3.058,86 (juta rupiah) atau 2,11%.
   Walau mengalami peningkatan nilai dari tahun 2005 ke tahun 2007, ternyata dari sisi persentase sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Pertanian mengalami trend penurunan, yakni 54,71% (pada tahun 2005), 53,29% (pada tahun 2006) dan 51,00% (pada tahun 2007). Berdasarkan hasil analisa, hanya subsektor perikanan yang mengalami penurunan persentase yakni pada tahun 2005 sebesar 16,20%, tahun 2006 meningkat menjadi 16,80% dan pada tahun 2007 menurun menjadi 15,91%. Fluktuasi ini juga terjadi pada subsektor perkebunan dengan nilai persentase berturut-turut pada kurun waktu 2005-2007 adalah 44,71%, 43,73%, dan 44,15%.
SEJARAH

Kota ini sudah terkenal sejak jaman penjajahan dahulu karena cengkeh dan pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol yang sampai ke Tidore tahun 1512. Kota ini juga sempat menjadi ibukota provinsi perjuangan Irian Barat. Gubernur pertamanya adalah Zainal Abidin Syah, yang juga sultan Tidore. Setelah papua masuk ke wilayah RI, statusnya berubah menjadi ibukota daerah administratif Halmahera tengah dengan ibukota Soa Sio Tidore. Tahun 1990, status daerah administratif berubah menjadi kabupaten Halmahera Tengah. Pada tahun 2003, Tidore menjadi kota dengan nomenklaturnya Kota Tidore Kepulauan, dengan penjabat walikota pertama adalah Drs M Nur Djauhari dan penjabat walikota kedua adalah Drs Mahmud Adrias.

Kerajaan Tidore

1.       Sejarah

Tidore merupakan salah satu pulau yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku. Sebelum Islam datang ke bumi nusantara, Tidore dikenal dengan nama Kie Duko, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung Marijang. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan dua rangkaian kata bahasa Tidore dan Arab dialek Irak: bahasa Tidore, To ado re, artinya, ‘aku telah sampai’ dan bahasa Arab dialek Irak anta thadore yang berarti ‘kamu datang’. Penggabungan dua rangkaian kata dari dua bahasa ini bermula dari suatu peristiwa yang terjadi di Tidore.

Menurut kisahnya, di daerah Tidore ini sering terjadi pertikaian antar para Momole (kepala suku), yang didukung oleh anggota komunitasnya masing-masing dalam memperebutkan wilayah kekuasaan persukuan. Pertikaian tersebut seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Usaha untuk mengatasi pertikaian tersebut selalu mengalami kegagalan.

Suatu ketika, diperkirakan tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Pada saat itu, di Tidore sedang terjadi pertikaian antar momole. Untuk meredakan dan menyelesaikan pertikaian tersebut, salah seorang anggota rombongan Ibnu Chardazabah, bernama Syech Yakub turun tangan dengan memfasilitasi perundingan yang disebut dengan Togorebo. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Konon, sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore. Demikianlah, kata Tidore akhirnya menggantikan kata Kie Duko dan menjadi nama sebuah kerajaan besar.

Menurut catatan Kesultanan Tidore, kerajaan ini berdiri sejak Jou Kolano Sahjati naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H (1108 M). Namun, sumber tersebut tidak menjelaskan secara jelas lokasi pusat kerajaan pada saat itu. Asal usul Sahjati bisa dirunut dari kisah kedatangan Djafar Noh dari negeri Maghribi di Tidore. Noh kemudian mempersunting seorang gadis setempat, bernama Siti Nursafa. Dari perkawinan tersebut, lahir empat orang putra dan empat orang putri. Empat putra tersebut adalah: Sahjati, pendiri kerajaan Tidore; Darajati, pendiri kesultanan Moti; Kaicil Buka, pendiri kesultanan Makian; Bab Mansur Malamo, pendiri kesultanan Ternate. Sedangkan empat orang putri adalah: Boki Saharnawi, yang menurunkan raja-raja Banggai; Boki Sadarnawi, yang menurunkan raja-raja Tobungku; Boki Sagarnawi, yang menurunkan raja-raja Loloda; dan Boki Cita Dewi, yang menurunkan Marsaoli dan Mardike. Kerajaan Tidore merupakan salah satu pilar yang membentuk Kie Raha, yang lainnya adalah Ternate, Makian dan Moti.

Berdasarkan legenda asal usul di atas, tampak bahwa empat kerajaan ini berasal dari moyang yang sama: Djafar Noh dan Siti Nursafa. Terlepas dari benar atau salah, kemunculan dan perkembangan legenda asal-usul tersebut secara jelas menunjukkan adanya kesadaran persaudaraan di antara kerajaan Kie Raha (gabungan empat kerajaan utama di Maluku Utara, yaitu: Ternate, Tidore, Makian dan Moti) sehingga mereka kemudian melegitimasinya dengan sebuah mitos asal-usul.

Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan dimana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.

Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.

Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Alauddin Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Tomabanga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saifudin (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soasio hingga saat ini.

Pada abad ke 16 M, orang Portugis dan Spanyol datang ke Maluku –termasuk Tidore– untuk mencari rempah-rempah, momonopoli perdagangan kemudian menguasai dan menjajah negeri kepulauan tersebut. Dalam usaha untuk mempertahankan diri, telah terjadi beberapa kali pertempuran antara kerajaaan-kerajaan di Kepulauan Maluku melawan kolonial Portugis dan Spanyol. Terkadang, Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo bersekutu sehingga kolonial Eropa tersebut mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tidore dan kerajaan lainnya.

Sepeninggal Portugis, datang Belanda ke Tidore dengan tujuan yang sama: memonopoli dan menguasai Tidore demi keuntungan Belanda sendiri. Dalam sejarah perjuangan di Tidore, sultan yang dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda adalah Sultan Nuku (1738-1805 M). Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing. Inggris yang juga ikut membantu Tidore dalam mengusir Belanda kemudian diberi kebebasan untuk menguasai Ambon dan Banda, dan mengadakan perjanjian damai dengan Sultan Nuku, sehingga relasi antara kedua belah pihak berjalan cukup harmonis. Di masa Sultan Nuku inilah, Tidore mencapai masa kegemilangan dan menjadi kerajaan besar yang disegani di seluruh kawasan itu, termasuk oleh kolonial Eropa. Di masa Sultan Nuku juga, kekuasaan Tidore sampai ke Kepulauan Pasifik. Menurut catatan sejarah Tidore, Sultan Nuku sendiri yang datang dan memberi nama pulau-pulau yang ia kuasai, dari Mikronesia hingga Melanesia dan Kepulauan Solomon. Nama-nama pulau yang masih memakai nama Nuku hingga saat ini adalah Nuku Hifa, Nuku Oro, Nuku Maboro, Nuku Nau, Nuku Lae-lae, Nuku Fetau dan Nuku Nono.

Seiring dengan masuknya kolonial Eropa, agama Kristen juga masuk ke Tidore. Namun, karena pengaruh Islam yang sudah begitu mengakar, maka agama ini tidak berhasil mengembangkan pengaruhnya di Tidore.

2. Silsilah

Dari sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah berkuasa 38 orang sultan di Tidore. Saat ini, yang berkuasa adalah Sultan Hi. Djafar Syah. (nama dan silsilah para sultan lainnya, dari awal hingga yang ke-37 masih dalam proses pengumpulan data).

3. Periode Pemerintahan

Kerajaan Tidore berdiri sejak 1108 M dan berdiri sebagai kerajaan merdeka hingga akhir abad ke-18 M. setelah itu, kerajaan Tidore berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Tidore menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

4. Wilayah Kekuasaan

Pada masa kejayaannya, wilayah kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Kepulauan Pasifik. Wilayah sekitar pulau Tidore yang menjadi bagian wilayahnya adalah Papua, gugusan pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Seram. Di Kepulauan Pasifik, kekuasaan Tidore mencakup Mikronesia, Kepulauan Marianas, Marshal, Ngulu, Kepulauan Kapita Gamrange, Melanesia, Kepulauan Solomon dan beberapa pulau yang masih menggunakan identitas Nuku, seperti Nuku Haifa, Nuku Oro, Nuku Maboro dan Nuku Nau. Wilayah lainnya yang termasuk dalam kekuasaan Tidore adalah Haiti dan Kepulauan Nuku Lae-lae, Nuku Fetau, Nuku Wange dan Nuku Nono.

5. Struktur Pemerintahan

Sistem pemerintahan di Tidore cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan sultan. Menariknya, Tidore tidak mengenal sistem putra mahkota sebagaimana kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Nusantara. Seleksi sultan dilakukan melalui mekanisme seleksi calon-calon yang diajukan dari Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha), yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama-nama ini, kemudian dipilih satu di antaranya untuk menjadi sultan.

Ketika Tidore mencapai masa kejayaan di era Sultan Nuku, sistem pemerintahan di Tidore telah berjalan dengan baik. Saat itu, sultan (kolano) dibantu oleh suatu Dewan Wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syara, adat se nakudi. Dewan ini dipimpin oleh sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (perdana menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato pehak raha (empat pihak bobato; semcam departemen) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir. Empat bobato tersebut adalah: (1) pehak labe, semacam departemen agama yang membidangi masalah syariah. Anggota pehak labe terdiri dari para kadhi, imam, khatib dan modim; (2) pehak adat bidang pemerintahan dan kemasyarakatan yang terdiri dari Jojau, Kapita Lau (panglima perang), Hukum Yade (menteri urusan luar), Hukum Soasio (menteri urusan dalam) dan Bobato Ngofa (menteri urusan kabinet); (3) Pehak Kompania (bidang pertahanan keamanan) yang terdiri dari Kapita Kie, Jou Mayor dan Kapita Ngofa; (4) pehak juru tulis yang dipimpin oleh seorang berpangkat Tullamo (sekretaris kerajaan). Di bawahnya ada Sadaha (kepala rumah tangga), Sowohi Kie (protokoler kerajaan bidang kerohanian), Sowohi Cina (protokoler khusus urusan orang Cina), Fomanyira Ngare (public relation kesultanan) dan Syahbandar (urusan administrasi pelayaran). Selain struktur di atas, masih ada jabatan lain yang membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Serang oli yang membidangi urusan propaganda.

6. Kehidupan Sosial Budaya

Masyarakat di Kesultanan Tidore merupakan penganut agama Islam yang taat, dan Tidore sendiri telah menjadi pusat pengembangan agama Islam di kawasan kepulauan timur Indonesia sejak dulu kala. Karena kuatnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan mereka, maka para ulama memiliki status dan peran yang penting di masyarakat. Kuatnya relasi antara masyarakat Tidore dengan Islam tersimbol dalam ungkapan adat mereka: Adat ge mauri Syara, Syara mauri Kitabullah (Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah). Perpaduan ini berlangsung harmonis hingga saat ini

Berkenaan dengan garis kekerabatan, masyarakat Tidore menganut sistem matrilineal. Namun, tampaknya terjadi perubahan ke arah patrilineal seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Tidore. Klen patrilineal yang terpenting mereka sebut soa. Dalam sistem adat Tidore, perkawinan ideal adalah perkawinan antar saudara sepupu (kufu). Setelah pernikahan, setiap pasangan baru bebas memilih lokasi tempat tinggal, apakah di lingkungan kerabat suami atau istri. Dalam antropologi sering disebut dengan utrolokal.

Dalam usaha untuk menjaga keharmonisan dengan alam, masyarakat Tidore menyelenggarakan berbagai jenis upacara adat. Di antara upacara tersebut adalah upacara Legu Gam Adat Negeri, upacara Lufu Kie daera se Toloku (mengitari wilayah diiringi pembacaan doa selamat), upacara Ngam Fugo, Dola Gumi, Joko Hale dan sebagainya.

Untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, orang Tidore menggunakan bahasa Tidore yang tergolong dalam rumpun non-Austronesia. Dengan bahasa ini pula, orang Tidore kemudian mengembangkan sastra lisan dan tulisan. Bentuk satra lisan yang populer adalah dola bololo (semacam peribahasa atau pantun kilat), dalil tifa (ungkapan filosofis yang diiringi alat tifa atau gendang), kabata (sastra lisan yang dipertunjukkan oleh dua regu dalam jumlah yang genap, argumennya dalam bentuk syair, gurindam, bidal dsb). Sebagian di antara satra lisan ini disampaikan dan dipertunjukkan dengan iringan alat tifa, sejenis gendang. Sasra tulisan juga cukup baik berkembang di Tidore, hal ini bisa dilihat dari peninggalan manuskrip kesultanan Tidore yang masih tersimpan di Museun Nasional Jakarta. Dan boleh jadi, manuskrip-manuskrip tersebut masih banyak tersebar di tangan masyarakat secara individual.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, orang-orang Tidore banyak yang bercocok tanam di ladang. Tanaman yang banyak ditanam adalah padi, jagung, ubi jalar dan ubi kayu. Selain itu, juga banyak ditanam cengkeh, pala dan kelapa. Inilah rempah-rempah yang menjadikan Tidore terkenal, dikunjungi para pedagang asing Cina, India dan Arab, dan akhirnya menjadi rebutan para kolonial kulit putih.






















Sejarah ternate

Asal Usul

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.
Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Spaial budaya ternate
Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.
Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.

Adat perkawinan

Daerah Maluku yang terdiri dari beratus-ratus pulau mempunyai berbagai suku bangsa, seperti suku Ternate, suku Ambon, suku Seram, suku Tidore, suku Kei dan sebagainya. dibawah ini akan diterangkan mengenai adat perkawinan di Maluku Utara yang banyak didiami oleh suku Ternate dan suku Tidore.[5]

1.   Ternate Berbudaya, bahwa kebijakan pemerintahan maupun perilaku masyarakat haruslah mencerminkan nilai-nilai budaya dan adat se atoran sebagai sumber nilai yang terbukti ampuh menjadi spririt sosial dan spirit moral Moloku Kie Raha pada masa kejayaannya. Hal ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap nilai budaya dan adat se atoran dengan mengupayakan pelestariannya, sekaligus menjadikannya sistem nilai yang membentuk kesadaran sosial yang diharapkan terefleksi dalam perilaku sosial masyarakat.


Keadaan penduduk ternate

Penduduk Di Kota Ternate

Permasalahan penduduk menjadi bagian utama yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan pembangunan. Hasil pembangunan yang dilaksanakan diharapkan dapat memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan penduduk, termasuk didalamnya pemenuhan kebutuhan dasar penduduk seperti kesehatan, pendidikan dan ketersediaan sarana bagi aktivitas baik sosial maupun ekonomi.
Untuk mewujudkan berbagai program pemerintah dalam menata masalah kependudukan, tentunya diperlukan informasi atau data penduduk yang akurat dan dapat digunakan sebagai landasan untuk menyusun perencanaan dan penentuan kebijakan di berbagai bidang pembangunan.

Sumber data kependudukan diperoleh dari hasil Sensus dan Survei serta Registrasi Penduduk.
Jumlah penduduk Kota Ternate berdasarkan proyeksi penduduk yang didasari pada hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas 2005) dan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2007) adalah sejumlah 176.838 jiwa, dan tersebar di empat kecamatan. Tingkat penyebaran penduduk menurut kecamatan dapat dilihat seperti uraian berikut :


  • . Kecamatan Pulau Ternate : 19.133 jiwa (10,82 %)
  • . Kecamatan Moti : 4.797 jiwa ( 2,71 %)
  • . Kecamatan Ternate Selatan : 78.989 jiwa (44,67 %)
  • . Kecamatan ternate Utara : 73.919 jiwa (41,80 %)


Informasi distribusi penduduk akan lebih berarti jika menggunakan ukuran demografi antara lain kepadatan penduduk. Hal ini penting mengingat diferensiasi jumlah penduduk antar wilayah dalam suatu daerah tidak mutlak menggambarkan kepadatan penduduknya.Suatu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang besar, belum tentu dirasakan padat bila wilayahnya juga luas.
Seiring dengan perkembangan Kota Ternate yang saat ini sebagai ibukota sementara Propinsi Maluku Utara berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk wilayah ini. Dengan luas wilayah daratan 250,85 km dan jumlah penduduk sebanyak 176.838 jiwa maka kepadatan penduduk Kota Ternate pada tahun 2007 sebesar 704 jiwa per km, hal ini berarti mengalami peningkatan sebanyak 24 jiwa per km atau 3,53 % bila dibandingkan tahun 2006 yang berjumlah 680 jiwa per km.
Perbandingan antar kecamatan dalam wilayah Kota Ternate menunjukan Kecamatan Ternate Utara memiliki kepadatan penduduk sebesar 3.191 jiwa per km sekaligus merupakan kecamatan yang paling padat penduduknya. Sementara ketiga kecamatan lainnya bila diurutkan dari yang paling padat adalah Ternate Selatan, Moti dan Pulau Ternate, masing-masing mempunyai kepadatan penduduk
sebesar : 2.727 jiwa/km, 195 jiwa/km dan 109 jiwa/km.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar