Selasa, 02 Februari 2016

PENDEKATAN PSIKODINAMIKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Psikodinamika merupakan salah satu pendekatan yang cukup tua, tentu saja salah satunya disebabkan karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang pertama kali muncul dalam dunia psikologi.
Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi, dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak usia dini.
Teori psikodinamika atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi dasar. Pertama, manusia bagian dari dunia binatag. Kedua, manusia adalah bagian dari sistem energi. Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya pelaku, baik itu berupa dorongan yang disadari maupun yang tidak disadari. Maka, untuk menembah pemahaman tentang teori psikodinamika, pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan teori tersebut secara menyeluruh.


B.   Rumusan Masalah
1.  Apa itu psikodinamika?
2.  Siapa tokoh yang berperan dalam teori perkembangan psikodinamika?
3.  Bagaimana fase-fase perkembanganan menurut teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud?
4.  BagaimanaTeori Perkembangan Anak Perspektif Psikodinamika Erikson?

C.   Tujuan
1.  Untuk mengetahui pengertian psikodinamika.
2.  Untuk mengetahui tokoh yang berperan dalam teori perkembangan psikodinamika.
3.  Untuk mengetahui fase-fase perkembanganan menurut teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud.
4.  Untuk mengetahui Teori Perkembangan Anak Perspektif Psikodinamika Erikson.




















BAB II
PEMBAHASAN


A.   Pengertian Psikodinamika
Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis. Banyak pakar yang kemudian ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).
Teori psikodinamika ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Psikodinamika mencerminkan dinamika-dinamika psikis yang menghasilkan gangguan jiwa atau penyakit jiwa. Dinamika psikis terjadi melalui sinergi dan interaksi-interaksi elemen psikis setiap individu.
Teori ini mempunyai kesamaan dengan teori belajar dalam hal pandangan akan pentingnya pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan primer terhadap perkembangan. Perbedaannya adalah bahwa teori psikodinamika memandang komponen yang bersifat sosio-afektif sangat fundamental dalam kepribadian dan perkembangan seseorang. Para teoritis psikodinamika percaya bahwa perkembangan merupakan suatu proses aktif dan dinamis yang sangat dipengaruhi oleh dorongan- dorongan atau impuls-impuls individual yang dibawa sejak lahir serta pengalaman- pengalaman sosial dan emosional mereka.
Menurut teori Freud, seorang anak dilahirkan dengan dua macam kekuatan (energi) biologik : libido dan nafsu mati. Kekuatan atau energi ini menguasai semua orang atau semua benda yang berarti atau yang penting bagi anak, melalui proses yang oleh Freud disebut khatexis, khatexis berarti konsentrasi energi psikis terhadap suatu obyek atau suatu ide yang spesifik atau terhadap suatu individu yang spesifik. Erikson (1964) meluaskan teori Freud dengan mencoba meletakan hubungan antara gejala-gejala budaya masyarakat dipihak lain. Erikson juga membagi hidup manusia dalam fase-fase berdasarkan proses-proses tertentu beserta akibat-akibatnya. Proses-proses tadi bisa berakibat baik atau tidak baik. Bila berakhir baik dapat memperlancar perkembangan,bila berakhir tidak baik dapat menghambatnya.

B.   Tokoh Perkembangan Psikodinamika
1.  Sigmund Freud
Sigmund Freud lahir, 6 Mei 1856 di Freiberg, dan meninggal di London, 23 September 1939 pada umur 83 tahun. Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.
Metode Freud yang digunakan untuk menyembuhkan penderita tekanan psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar, asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah – masalah yang ditekan oleh diri seseorang. Sedangkan analisis mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam. Ketika permasalahan alam bawah sadar ini terungkap, maka untuk penyelesaianselanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.
2.  Erik Erikson
Erik Erikson lahir di Frankfurt-am-Main, Jerman, 15 Juni 1902 – meninggal  di Harwich, Amerika Serikat pada umur 91 tahun.Erik Erikson  adalah seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan  teori tentang delapan tahap perkembangan pada manusia. Erikson menjadi terkenal karena upayanya dalam mengembangkan teori tentang tahap perkembangan manusia yang dirintis oleh Freud.
Berbeda dengan Freud yang dikenal dengan psikolog id, Erikson dikenal sebagai psikolog ego. Dia menekankan peran budaya dan masyarakat dan konflik yang dapat terjadi dalam ego itu sendiri, sedangkan Freud menekankan konflik antara id dan superego.
Menurut Erikson, ego berkembang karena berhasil menyelesaikan krisis sosial yang jelas di alam. Ini melibatkan membangun rasa percaya pada orang lain, mengembangkan rasa identitas dalam masyarakat, dan membantu generasi berikutnya mempersiapkan untuk masa depan.

C.   Teori Perkembangan Anak Prespektif Sigmund Freud
Sigmund Freud menjelaskan bahawa sejak awal terbentuknya kehidupan, manusia dimotivasi oleh dorongan-dorongan irasional yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan. Dorongan-dorongan tersebut merupakan bentuk ekspresi dari libido, yaitu dorongan hidup atau energi psikis yang memotivasi prilaku manusia. Libido dapat diartikan sebagai energi mental yang terdapat dalam diri manusia.
Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga bagian utama, yaitu, Id, ego, dan superego. Ketiga bagian psikis ini mempunyai kekhasan masing-masing, sebab mereka menggambarkan tiap-tiap ide yang saling paradoks. Hanya saja, mereka tidak akan membuat manusia sepenuhnya nyaman, karena manusia tetap saja orang yang sakit. Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur: kepala, kaki, lengan dan batang tubuh, Sigmund Freud, meyakini bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Masing-masing sistem tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga bagian kepribadian manusia tersebut akan dijelaskan sebagi berikut:
1.  Id (Das Es)
Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia.
Id berisikan libido dan bekerja secara tidak sadar, terdiri dari implus-implus dasar manusia yang sudah dimiliki manusia sejak lahir, seperti seksual dan agresi. Id bekerja atas dasar kesenangan yang terdapat dalam diri manusia, digerakan oleh implus-implus yang ingin segera terpuaskan untuk mendapatkan suatu kesenangan.
2.  Ego (Das Ich)
Berbeda dengan id, ego berada pada tahap sadar, yang merupakan aspek berpikir dari kepribadian yang berkembang pada usia dua sampai tiga tahun. Ego bekerja untuk memenuhi kebutuhan dari id. Seperti ketika sesorang merasa lapar, id menuntut suatu pemuasan segera, tugas ego adalah untuk mencari cara memuaskan kebutuhan tersebut. Ego bekerja berlandaskan prinsip realitas dan berhubungan dengan proses sekunder. Tujuan prinsip realitas adalah mencari objek yang tepat sesuai dengan kenyataan untuk mereduksi ketegangan yang timbul di dalam diri. Proses sekunder ini adalah proses berpikir realistik. Dengan mempergunakan proses sekunder, Ego merumuskan sesuatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui apakah rencananya itu berhasil atau tidak.
3.  Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah bagian dari kepribadian manusia yang berperan sebagai penilai moral, berisi tentang aturan-aturan sosial yang berkembang dalam masayarakat dan berkembang mendekati usia enam tahun.
Aktifitas Superego dapat berupa self observation, kritik diri, larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Superego terbentuk melalui internalisasi (proses memasukkan ke dalam diri) berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama di masa kanak-kanak. Superego memiliki fungsi sebagai pengendali ego agar dorongan-dorongan ego disalurkan dalam bentuk aktivitas yang dapoat diterima oleh masyarakat, mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral, mendorong individu kepada kesempurnaan.
Selajutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui lima fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Kelima fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut:
a.  Fase oral (oral stage: 0 sampai kira-kira 18 bulan)
    Pada tahap oral, sumber utama bayi berinteraksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi merasakan kesenangan dari rangsanga oral melaui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya bergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk member makan bayi, bayi juga mengembangkanrasa kepercayaan dan kenyamanan melalui setimulusi oral. Konflik utama pada tahap ini adalah prioses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya induvidu akan memiliki maslah dengan ketergantungan atau agresi. Fiksasi oral dapat mengakibatkan maslah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
b.  Fase anal (anal stage: kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun)
   Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus awal dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik untama pada tahap ini adalah pelatihan toilet. Anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan control ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian. Menurut Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua melakukan  pendekatan pelatihan toilet. Orang yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu an produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini  menjadikan dasar seseorang menjadi orang dewasayang kompeten, produktif, dan kreatif. Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan kepada anak-anak mereka selama tahap ini. Menurut Freud, pada fase ini apabila pengontrolan orang tua pada anak yang terlalu longgar akan mengakibatkan anak itu menjadi seorang yang boros dan memiliki kepribadian yang berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau terlalu dini memulai toilet traning kepada seorang anak maka kepribadian kuatlah yang akan berkembang di mana seorang anak akan menjadi tertib, kaku, dan obseif.
c.   Fase falis (phallic stage: kira-kira usia 3 samapai 6 tahun)
   Pada tahap falis, focus utama dari libido adalah pada alat klamin. Anak-anak mulai menemukan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sabagai saingan untuk memperoleh kasih sayang ibu. Kompleks Oedipus menggambarkan perasaan ini ingi memiliki ibu dan ada keinginan untuk menggantika ayah. Namun, anak juga merasa khawatir bahwa ia akan di hukum oleh ayah untuk perasaan ini, ketakutan ini di sebut Freud sebagai pengebirian kecemasan.
d.  Fase laten (latency stage: kira-kira 6 sampai puberitas)
   Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi di arahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial, komunikasi dan kepercayaan diri.
e.  Fase genital (genital stage: pubertas dan selanjutnya)
   Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, induvidu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Pada tahap-tahap awal hanya fokus pada kebutuahan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.



D.   Terori Perkembangan Erikson
Erik Erikson dipandang sebagai tokoh utama dalam teori psikoanalitik kontemporer. Erikson menguraikan dan memperluas struktur psikoanalisis yang dibangun oleh Freud serta merumuskan kembali prinsip-prinsipnya guna memahami dunia modern.
Meskipun teori perkembangan kepribadian yang dirumuskan Erikson mempunyai kemiripan dengan teori Freud, namun dalam beberapa hal keduanya berbeda pendapat. Erikson misalnya, mengatakan bahwa individu berkembang dalam tahap – tahap psikososial, yang berbeda dengan tahap – tahap psikoseksual  Freud. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sementara Freud berpendapat bahwa kepribadian dasar individu dibentuk pada lima tahun pertama kehidupan. Disamping itu, dalam teori psikososial, Erikson lebih menekankan faktor ego, sementara dalam teori psikoseksual, Freud lebih mementingkan id. Erikson menjelaskan yang tidak dilakukan oleh Freud yaitu tahap perkembangan manusia dari lahir hingga lanjut usia. Teori Erikson dianggap lebih realistis dengan menekankan pada aspek sosial dan fungsi budaya, berbeda dengan Freud yang lebih banyak berbicara tentang wilayah ketidaksadaran manusia.
Menurut erikson ada delapan tahap perkembangan terbentang ketika kita melalui siklus kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan induvidu dengan suatu krisis yang harus di hadapi. Bagi Erilson krisis inibukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan dan peningkatan potensi. Semakin berhasil induvidu menghadapi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka. Berikut adalah tahapan krisis perkembangan menurut Erik Erikson:
a.  Kepercayaan vs ketidak percayaan (12-18 bulan)
Adalah suatu tahap psikososial  pertama yang di alami dalam tahun pertama kehidupan. Rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil kekhawatiran akan masa depan. Kepercayaan pada bayi menentukan harapan bahwa dunia akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan.
b.  Autonomy vs rasa malu dan ragu (18 bulan hingga 3 tahun)
Adalah tahap perkembangan kedua yang berlangsung pada masa bayi dan baru mulai berjalan (1-3tahun). Setelah memperoleh rasa percaya kepada pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa prilaku mereka adalah atas kehendaknya. Mereka menyadari kemauan mereka dengan rasa mandiri dan otonomi mereka. Bila bayi cenderung di batasi maka mereka akan cenderung mengembangkan rasa malu dan keragu-raguan.
c.   Inisiatif vs rasa bersalah (3 - 6 tahun)
Merupakan tahap ketiga yang berlangsung selama tahun-tahun sekolah. Ketika mereka masuk dunia sekolah mereka lebih ditantang di banding ketika masih bayi. Anak-anak di harapkan aktif untuk menghadapi tantangan ini dengan rasa tanggung jawab atas prilaku mereka, mainan mereka, dan hewan peliharaan mereka. Anak-anak bertanggung jawab meningkatkan prakarsa. Namun, perasaan bersalah dapat muncul, bila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat mereka sangat cemas.
d.  Indistri vs inverioritas (6 tahun - puberitas)
Berlangsung salama tahun-tahun sekolah dasar tidak ada masalah lain yang lebih antusias dari pada akhir periode masa awal anak-anak yang penuh imajinasi. Ketika anak-anak memasuki tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Pada tahap ini, yang paling berbahaya adalah perasaan tidak kompeten dan tidak produktif.
e.  Identitas vs kekacauan identitas (puberitas dewasa awal)
Merupakan tahap kelima yang di alami individu selama tahun-tahun masa remaja. Pada tahap ini mereka dinhadapkan oleh pencarian siapa mereka, bagaimana mereka nanti, dan kemana mereka akan menuju masa depannya. Satu dimensi yang penting adalah penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran penjajakan karir merupakan hal penting. Orang tua harus mengizinkan anak remaja menjajaki bayak peran dan berbagai jalan. Jika anak menjajaki berbagai peran dan menemukan peran positif maka ia akan mencapai identitas yang positif. Jika orang tua menolak identitas remaja sedangkan remaja tidak mengetahui banyak peran dan juga tidak di jelaskan tentang jalan masa depan yang posotif maka ia akan mengalami kebingungan identitas.
f.       Imitasi vs isolasi (dewasa awal)
Tahap ke enam yang di alami pada masa-masa dewasa. Pada masa ini induvidu di hadapi tugas perkembangan pembentukan relasi intim dengan orang lain, keintiman akan dicapai, kalau tidak, isolasi akan terjadi.
g.  Produksifitas vs staknasi (dewasa tengah)
Tahap ketujuh perkembangan yang di alami pada masa pertengahan dewasa. Persoalan pertama adalah membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna (generality). Perasaan belum melakukan sesuatu untuk menolong generasi berikutnya adalah stagnation.
h.  Integritas evo vs putus asa (dewasa akhir)
Tahap kedelapan yang di alami pada masa dewasa akhir. Pada tahun terakhir kehidupan lalu maka integritas tercapai. Sebaliknya, jika ia menganggapselama kehidupan lalu dengan cara negatif maka akan cenderung merasa bersalah dan kecewa.
BAB III
KESIMPULAN

Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud, seorang Austria keturunan yahudi. Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Freud mengembangkan psikodinamika menjadi psikoanalisis. Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga bagian utama, yaitu, Id, ego, dan superego.
Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui lima fase, yaitu oral, anal, falis, laten, dan genital. Kelima fase tersebut berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan.
Erik Erikson dipandang sebagai tokoh utama dalam teori psikoanalitik kontemporer, ia lahir di Frankfurt-am-Main, Jerman, 15 Juni 1902. Erikson mengembangkan teori psikoanalis Freud, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sementara Freud berpendapat bahwa kepribadian dasar individu dibentuk pada lima tahun pertama kehidupan.
Menurut erikson ada delapan tahap perkembangan terbentang ketika kita melalui siklus kehidupan, yaitu tahap Kepercayaan vs ketidak percayaan (0-18 bulan), Autonomy vs rasa malu dan ragu (18 bulan – 3 tahun), Inisiatif vs rasa bersalah (3 - 6 tahun), Industri vs inverioritas (6 tahun - puberitas), Identitas vs kekacauan identitas (puberitas dewasa awal), Imitasi vs isolasi (dewasa awal), Produktifitas vs staknasi (dewasa tengah), Integritas evo vs putus asa (dewasa akhir).


DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa: Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta:  Primasophie.
Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.
Mischel, Shoda, and Smith. 2004. Introduction to Personality: toward an integration. John Wiley: USA
Rahayu, Siti dkk.2006.Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya.Yogyakarta: UGM prees
Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Grafindo Persada
Sumadi Suryabrata. (2005) Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali.
https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson. Diakses tanggal 22 Januari 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud. Diakses tanggal 22 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar