Kamis, 22 November 2012

kado buat ayah

Kosong dan isi
Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa
gulung kertas kado.
Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta
satu gulung.
Untuk apa ?" - tanya sang ayah.
"Untuk kado, mau kasih hadiah." - jawab si kecil.
"Jangan dibuang-buang ya." - pesan si ayah,
sambil memberikan satu gulungan kecil.
Persis pada hari raya, pagi-pagi si cilik sudah
bangun dan membangunkan ayahnya,
"Pa, Pa - ada hadiah untuk Papa."
Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun
belum melek, menjawab, "Sudahlah nanti saja."
Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa,
bangun Pa sudah siang."
"Ah, kamu gimana sih - pagi-pagi sudah bangunin
papa."
Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan
kepada anaknya.
"Hadiah apa nih?"
"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka
sekarang."
Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu.
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong.
Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa saja.
Bingkisannya koq kosong.
Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal ?"
Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong.
Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk
Papa."
Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya.
Dipeluknya, diciumnya.
"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini.
Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke
kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri,
Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong - diisi
lagi ya!"






PERSPEKTIF

Boks kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak
berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba
terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi.
Apa yang terjadi ?
Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat
tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap
juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan
tetap menganggapnya kotak kosong.
Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang
lain.
Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong
oleh orang lain.

KESIMPULAN

Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari
"pikiran" anda sendiri.
Sebagaimana anda memandangi hidup - demikianlah
kehidupan anda.
Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda
memberikan arti kepadanya,memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak
memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas
yang kosong...........

hasrat, komitmen dan keberanian

Hasrat, Komitmen, dan Keberanian
Oleh: Ang Tek Khun *

Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17
tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan
orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah
tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah
sebulan di Amerika.

Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat
parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak
menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar
bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian
besar untuk ukuran gadis Indonesia.

"Aku ingin kuliah di Amerika," tuturnya, terdengar hampir tak masuk
akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian
gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul
lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia
belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran
bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional
itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas
sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

"Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang
kaya-kaya," tutur sang guru. "Semangat Hani meningkat seiring dengan
meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat."

Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari
universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau
organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak
memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena
tes semacam itu tak ada.

Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana
pun. "Maukah Anda mengirimkan namaku?" pintanya untuk didaftarkan
sebagai penerima beasiswa.

"Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-
titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan
akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan
kegigihannya," ujar sang guru.

"Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya
untuk diterima itu tipis, mungkin nihil."

Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam
bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar
bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua
minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia
menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. "Inilah saat yang kejam.
Penolakan," pikir sang guru. Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya
untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai
membacakannya: Ia diterima! Hani diterima ....

"Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang
sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa
sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras,
dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri," tutur sang guru
menutup kisahnya.

* * *

Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie
Winship, dan dimuat di buku "Chicken Soup for the College Soul", yang
edisi Indonesianya telah diterbitkan.

Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack
Canfield, Mark Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia
terpilih diantara lebih dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan
ini yang membuatnya istimewa.

Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya
tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy
Lasorda, "Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil
terletak pada tekad seseorang."

Anda memilikinya?

*) Ang Tek Khun, Kolomnis Pembelajar.Com


hikmah garam dan telaga

Hikmah Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak
Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil
segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu  diaduknya
perlahan. "Coba,  minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar
Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk
berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua
orang itu berjalan  berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke
tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam
telaga itu.  Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk
dan tercipta  riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil
air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air
itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia
lalu  mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga
itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah
yang  kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan
tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati
kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,
hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu
menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan
itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah
itu.  Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan
Pak  Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam",
untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

ibu

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.
 Dia bertanya kepada TUHAN: "Para malaikat di sini mengatakan
 bahawa esok ENGKAU akan mengirimkanku ke dunia, tetapi bagaimana
 caranya saya dapat hidup di sana, sedangkan saya begitu kecil dan
 lemah?"
          TUHAN menjawab :"AKU telah memilih satu malaikat
 untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu...."
 
          Sang bayi kemudian menjawab: "Tapi di sini, di dalam
 syurga, apa yang saya lakukan hanyalah menyanyi dan ketawa. Ini
 sudah cukup membahagiakan saya.."
 
          "Malaikatmu akan menyanyi dan tersenyum untukmu setiap
 hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi
 lebih berbahagia..."
 
          "Tetapi bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
 berbicara kepadaku jika saya tidak memahami bahasa mereka?"
 
          "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang
 paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran
 dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana kamu akan dapat
 berbicara.."
          Sang bayi berkata lagi "Dan apa yang perlu saya saat
 ingin berbicara kepadaMu?"
 
          "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana untuk berdoa
 kepadaKu..."          "Saya mendengar bahawa di bumi banyak orang
 jahat. Siapa yang akan melindungi saya nanti?"
          "Malaikatmu akan melindungi kamu, walaupun hal tersebut
 mungkin dapat mengancam jiwanya.."
          "Tapi saya pasti akan merasa sedih kerana tidak dapat
 melihatMu lagi...."
 
          TUHAN berkata: "Malaikatmu akan bercerita padamu tentang
 AKU, dan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali padaKu,
 walaupun sesungguhnya AKU akan selalu berada di sisimu...."
 
          Saat itu, Syurga begitu tenang sehingga suara dari bumi
 dapat didengar. Sang bayi kemudian bertanya perlahan : " TUHAN,
 jika saya harus pergi sekarang, bisakah ENGKAU khabarkan nama
 malaikat tersebut??"
 "Kamu akan memanggilnya .....ibu!"
 'Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya  dan cintailah dia sepanjang masa.'