Kamis, 22 November 2012

hikmah garam dan telaga

Hikmah Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak
Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil
segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu  diaduknya
perlahan. "Coba,  minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar
Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk
berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua
orang itu berjalan  berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke
tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam
telaga itu.  Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk
dan tercipta  riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil
air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air
itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia
lalu  mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga
itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah
yang  kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan
tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati
kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,
hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu
menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan
itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah
itu.  Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan
Pak  Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam",
untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar