Kamis, 22 November 2012

hasrat, komitmen dan keberanian

Hasrat, Komitmen, dan Keberanian
Oleh: Ang Tek Khun *

Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17
tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan
orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah
tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah
sebulan di Amerika.

Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat
parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak
menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar
bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian
besar untuk ukuran gadis Indonesia.

"Aku ingin kuliah di Amerika," tuturnya, terdengar hampir tak masuk
akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian
gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul
lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia
belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran
bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional
itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas
sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

"Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang
kaya-kaya," tutur sang guru. "Semangat Hani meningkat seiring dengan
meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat."

Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari
universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau
organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak
memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena
tes semacam itu tak ada.

Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana
pun. "Maukah Anda mengirimkan namaku?" pintanya untuk didaftarkan
sebagai penerima beasiswa.

"Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-
titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan
akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan
kegigihannya," ujar sang guru.

"Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya
untuk diterima itu tipis, mungkin nihil."

Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam
bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar
bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua
minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia
menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. "Inilah saat yang kejam.
Penolakan," pikir sang guru. Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya
untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai
membacakannya: Ia diterima! Hani diterima ....

"Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang
sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa
sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras,
dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri," tutur sang guru
menutup kisahnya.

* * *

Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie
Winship, dan dimuat di buku "Chicken Soup for the College Soul", yang
edisi Indonesianya telah diterbitkan.

Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack
Canfield, Mark Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia
terpilih diantara lebih dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan
ini yang membuatnya istimewa.

Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya
tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy
Lasorda, "Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil
terletak pada tekad seseorang."

Anda memilikinya?

*) Ang Tek Khun, Kolomnis Pembelajar.Com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar