Senin, 16 Februari 2015

BATU AKIK ASAL MALUKU UTARA YANG MENDUNIA






Meningkatnya pengemar Batu Bacan membuat Wartawan bnn Provinsi Maluku Utara mencoba untuk menguak sejarah batu yang tergolong mahal ini, kita mulai dari tahun ditemukan dan dipopulerkannya dimana Bacan sudah dikenal sejak tahun 1960an.
Sebenarnya Batu akik Jenis Bacan terdapat di pulau Kasiruta bukan pulau Bacan, Halmahera, Maluku Utara, karena pusat pemerintahan terdapat di Labuha, pulau Bacan maka batu tersebut dinamai batu bacan.
Pada masa itu, jenis batu bacan yang digemari masyarakat adalah warna hati hiu, kembang super dan warna biru. Kenapa dikatakan batu bacan warna kembang super,  karena terdiri atas 3-4 warna.
Orang yang menggosok batu bacan pertamakali bernama Muhammad tinggal di desa Amasing, Bacan. Dulu, batu bacan tidak dihargai semahal seperti sekarang karena dulu tidak ada pembeli lokal dan pembeli dari luar daerah. Pada saat itu, tidak ada masyarakat yang mencari nafkah mencari batu bacan (penambang).Mata pencaharian masyarakat di pulau Kasiruta sebagai petani yang pergi ke kebun/ mencari damar.    Kadang mereka menemukan batu bacan di sungai atau erosi  (gunung yang longsor). Petani yang menemukan batu bacan biasanya menukar batu bacan dengan barang-barang sembako.
Pada tahun 1990an batu bacan  berbentuk bongkahan kurang lebih 10 kg dengan jenis super pertama  kali dibeli  oleh turis dari Singapura dengan uang ribuan dolar Singapura (yang nilainya ditukar Rupiah  pada masa itu sebesar 7 juta ).  Bapak pemilik batu bacan bernama Anongko Golf tinggal di desa Palamea, pulau Kasiruta di sebelah barat. Sekarang desa Palamea sudah  menjadi ibukota kecamatan Bacan Barat. Pembelian batu bacan oleh orang singapura dengan harga yang masa itu cukup tinggi menyebabkan batu bacan sudah mulai dikenal di kalangan penggemar batu mancanegara.
Selesai kerusuhan, sekitar tahun 2005 batu bacan mulai banyak peminat. Pembeli yang sangat berminat dengan batu bacan adalah kalangan dari Suku Tionghoa. Mereka membeli batu bacan dengan warna hijau dan biru.  Warna yang sangat digemari dan sangat mahal adalah warna hijau dan biru.  Batu bacan warna merah juga mereka cari tetapi sangat sulit didapatkan batu bacan warna merah.
Mulai tahun 2009 sampai sekarang, pembeli suku Tionghoa maupun pencinta Batu akik dari Jakarta dan Luar Negeri datang langsung  membeli bongkahan batu bacan ke lokasi penambangan di pulau Kasiruta dengan harga yang sangat mahal hingga ratusan juta lebih. Sekarang ini, bongkahan batu bacan sudah sulit didapat.  Ada penambang batu bacan mencari batu bacan bisa mendapatkan 1-2 minggu, ada juga selama berbulan-bulan tidak mendapatkan batu bacan di lokasi.  Penambang batu bacan selain penduduk lokal, ada juga yang berasal dari luar daerah, tetapi mereka tidak bertahan lama karena ongkos hidup penggalian sangat besar  dan medan/ lokasi penambangan sangat sulit. Ada penambang batu bacan yang meninggal  jatuh korban karena  tertimpa batu, tertimpa pohon, dan ada juga yang sakit. Masyarakat penggemar batu di luar Maluku Utara yang mengenal batu bacan,  mereka heran kenapa sangat mahal batu bacan.
Memang batu bacan mahal karena batu bacan sangat unik dan aneh.  Terbanyak orang berpikir batu bacan seperti batu permata pada umumnya yang pertama kali ditemui harus jernih dan bening.
Mengapa batu bacan dikatakan batu proses? Karena batu bacan sangat luar biasa, banyak orang  terheran-heran kenapa batu yang  tadinya hitam, dalam beberapa bulan berubah menjadi hijau. Batu yang tadinya disenter tidak tembus dan berwarna hitam, sekarang hitamnya sudah menjadi titik-titik dan berubah warnanya menjadi hijau yang sudah tembus.
Hati-hati banyak batu lain yang mirip dengan batu bacan. Batu tersebut pada umumnya ditemui pertama kali langsung bening. Ada batu bacan yang tidak proses, batu sudah mati. Dagingnya dan warna batunya bagus, tetapi batu tersebut sudah tidak memiliki cahaya.
Kini disetiap tempat di Maluku utara dibanjiri dengan pengrajin Gosok Batu Bacan dan setiap harinya dibanjiri oleh orang yang ingin mengosok batu.


Oleh : Jhoni Lagunsiang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar