Minggu, 10 Januari 2016

makalah Online Learning

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LatarBelakangMasalah

Teknologi dalam bidang pendidikan pada zaman sekarang perkembangannya semakin maju pesat. Pengembangan teknologi ini ditujukan untuk meningkatkan fasilitas yang mampu membuat pendidikan menjadi lebih baik. Salah satu teknologi pendidikan yang banyak dikembangkan adalah Online Learning.
Salah satunya pemanfaatan teknologi komputer dalam kegiatan belajar mengajar adalah program online learning yang telah menjadi salah satu kebutuhan bagi civitas akademika, baik pendidik  maupun peserta didik.
Perubahan paradigma strategi pembelajaran dari teacher-centered ke student-centered mendorong civitas akademika untuk menggunakan online learning sebagai salah satu metode pembelajaran yang dipersepsikan bersifat student centered. Pemanfaatan online learning diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian peserta didik, serta komunikasi antara pendidik dengan peserta didik maupun antar peserta didik.
Online learning juga dapat digunakan unuk mengatasi keterbatasan ruang kelas serta hambatan jarak dan waktu di dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Dengan menggunakan bantuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Adanya alat-alat itu dapat mengubah pikiran manusia, mengubah cara kerja dan cara hidupnya. Demikian juga, pendidikan tidak terlepas dari pengaruh teknologi.Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, informasi dan komunikasi.
Dari beberapa penyebab kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, informasi dan teknologi tersebut dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang dilakukan oleh para pakar pendidikan untuk memajukan bidang pendidikan tersebut ?” Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan fakta yang ada, dan karya-karya ilmiah yang telah ditulis oleh para pakar pendidikan, telah ditemukan upaya untuk memajukan dunia pendidikan, dengan menciptakan/memperkenalkan sistem pembelajaran yang efektif dan efisien bagi guru dan peserta didik.yang berupa pembelajaran jarak jauh dengan mempergunakan media elektronika yang dikenal dengan istilah online Learning.

Seperti Sebagaimana yang disebutkan di atas, Onlinelearning telah mempersingkat waktu pembelajaran.  Online learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik.Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

B.    Rumusan Masalah
a.   Apa yang dimaksud dengan online learning?
     b.   Apafungsionline learning?
    c.   Bagaimana kedudukanonline learning dalam pembelajaran?
    d.   Apakompenen desain online learning?
  e.  Bagaimanakahstrategi pembelajaran online interaktif yang tepat ? (using interactive teaching and learning strategies)
C.    Tujuan

a.       Untuk mengetahui tentang Onlinelearning
b.      Untuk mengetahui Fungsionline learning
c.       Untuk mengetahui kedudukanonline learning
d.      Untuk mengetahui komponen desainonline learning
e.       Untuk mengetahui strategi pembelajaranonline learnig





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Online Learning

Banyak istilah yang digunakan untuk mendefinisikan online learning sehingga menyulitkan untuk mengembangkan definisi yang generik. Carliner (1999) p.1 mendefinisikan online learning sebagai materi pembelajaran yang disajikan dengan komputer. Khan (1997) mendefinisikan onlinelearning sebagai pendekatan inovatif untuk memberikan instruksi  kepada peserta didik yang berjarak jauh dan menggunakan web sebagai media perantara. Ketentuan yang bersifat umum yang digunakan termasuk e-learning, internet learning, distributed learning,networked learning, tele-learning, virtual learning, computer assisted learning, web based learning, dan distance learning. Semua istilah ini menyiratkan bahwa pelajar berada pada suatu jarak tertentu dengan guru atau instruktur dan menggunakan beberapa bentuk teknologi (umumnya komputer) untuk mengakses bahan ajar serta untuk berinteraksi dengan tutor atau instruktur dan peserta didik lainnya.        
Salah satu perhatian pendidikan yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan adalah   berkaitan   dengan   kualitas   pendidikan,   khususnya   kualitas pembelajaran. Dari berbagai kondisi dan potensi yang ada, upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas tersebut adalah mengembangkan pembelajaran  yang  berorientasi  pada  pembelajar.  Pembelajaran  yangberorientasi pada pembelajar dapat dilakukan dengan membangun sistem pembelajaran yang memungkinkan pembelajar memiliki kemampuan untuk belajar lebih menarik, interaktif, dan bervariasi. Pembelajar harus mampu memiliki kompetensi yang berguna bagi masa depannya. Seiring dengan perkembangan teknologi berikut infrastruktur penunjangnya, upaya  peningkatan  kualitas  pembelajaran  dapat  dilakukan  melalui pemanfaatan teknologi tersebut dalam suatu sistem yang dikenal dengan onlinelearning. Onlinelearning merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi pembelajar belajar lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi.
Melalui fasilitas yang disediakan oleh sistem tersebut, pembelajar dapat belajar kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh jarak, ruang dan waktu.
Materi pembelajaran yang dipelajari lebih bervariasi, tidak hanya dalam
bentuk verbal, melainkan lebih bervariasi seperti visual, audio, dan gerak. Onlinelearning memerlukan pembelajar dan pengajar berkomunikasi
secara   interaktif   dengan   memanfaatkan   teknologi   informasi   dan
komunikasi, seperti media komputer dengan internetnya, telepon atau fax,
Pemanfaatan media ini bergantung pada struktur materi pembelajaran
dan tipe-tipe komunikasi yang diperlukan. Transkrip percakapan, contoh-
contoh informasi, dan dokumen-dokumen tertulis yang menghubungkan
pada onlinelearning atau pembelajaran melalui Web yang menunjukkan
contoh-contoh penuh teks adalah cara-cara tipikal bahwa pentingnya
materi pembelajaran didokumentasi secara online. Komunikasi yang lebih
banyak visual meliputi gambaran papan tulis, kadang-kadang digabungkan
dengan sesi percakapan, dan konferensi video, yang memperbolehkan
pembelajar yang suka menggunakan media yang berbeda untuk bekerja
dengan pesan-pesan yang tidak dicetak.
Pembelajaran jarak jauh online menerapkan sistem pembelajaran online (onlinelearning) yang berbasis web. Model pembelajaran jarak jauh online diawali dengan perencanaan yang baik, kemudian cara materi pembelajaran disampaikan (deliverycontent) kepada pembelajar yang harus mengacu pada perancangan tersebut. Pada dasarnya terdapat perbedaan antara desain pembelajaran konvensional secara tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh online.
Ruang lingkup kompetensi bagi seorang pengajar dalam pembelajaran
jarak jauh meliputi perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran,
keterampilan  penyajian  baik  verbal  maupun  non  verbal,  kerjasama
tim, keterampilan strategi bertanya, keahlian dalam penguasaan materi
pembelajaran, melibatkan pembelajar dalam pembelajaran dan koordinasi
aktivitas  belajarnya,  pengetahuan  tentang  teori  belajar,  pengetahuan
tentang  pembelajaran  jarak  jauh,  pengetahuan  tentang  perencanaan
pembelajaran, dan penguasaan media pembelajaran.
Pengelolaan   sistem   pembelajaran   online   berbeda   dengan   sistem
konvensional.   Sistem   pembelajaran   online   menuntut   keberadaan
infrastruktur dan teknologi yang mendukung (technology suport), seperti
computer, televisi, satelit, video interaktif, CD ROM, dan sebagainya.
Keterlibatan teknologi tersebut tidak bisa digunakan secara spontanitas
namun  diperlukan  sebuah  desain  pembelajaran  yang  memadukan
teknologi tersebut secara efektif. Pembelajaran online memiliki variasi
sesuai dengan modus yang digunakannya, yaitu online sepenuhnya atau
kombinasi dengan tatap muka (face to face). Tatap muka dapat juga
dilakukan dengan melibatkan teknologi, misalnya video conferencing atau
tele conferencing.
Untuk pengembangan keberhasilan sebuah onlinelearning diperlukan
desain onlinelearning dengan cara langkah demi langkah. Desain ini
secara khusus difokuskan pada penggunaan metode lanjutan dalam
pembelajaran jarak jauh, khususnya pada aspek desain dan prinsip-
prinsipnya. Diantaranya dalah pengembangan onlinelearning dengan cara
menyimpan bahan tulisan dalam bentuk HTML. Pada umumnya orang
belajar dan menyimak sebuah bacaan dari bahan-bahan tercetak (printed
matterial). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah
mengubah data-data dalam bentuk cetak menjadi bahan-bahan digital
yang dapat dilihat pada layar monitor dan selanjutnya dapat diprint out.
Bahan-bahan yang disajikan dalam webonline perlu dirancang dengan
teks yang disajikan tidak seperti halnya dalam buku teks namun perlu
diorganisir. Hal tersebut karena terdapat perbedaan kemampuan orang
membaca di komputer dengan membaca langsung. Desain online dikenal
dengan istilah storyboard dan pemetaan visual (visual map) yang tidak
hanya untuk program komputer namun juga untuk program TV, CD
interaktif dan lain-lain.
Menurut Selma Koc and all (2015)Technology plays a positive role on student learning, offering an engaged learning environment.
Teknologi memainkan satu peran positif pada belajar murid, Menawarkan keterlibatan murid di satu lingkungan belajar
Onlinelearning dapat dirumuskan sebagai “a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources’ (Saul Carliner, 2003). Pengertian onlinelearning meliputi aspek perangkat keras (infrastruktur) berupa seperangkat komputer yang saling berhubungan satu sama lain dan memiliki kemampuan untuk mengirimkan data, baik berupa teks, pesan, grafis, maupun suara. Dengan kemampuan ini onlinelearning dapat diartikan sebagai suatu jaringan komputer yang saling terkoneksi dengan jaringan komputer lainnya ke seluruh penjuru dunia. Namun demikian, pengertian online learning bukan hanya berkaitan dengan dengan perangkat keras saja, melainkan juga mencakup perangkat lunak berupa data yang dikirim dan disimpan yang sewaktu-waktu dapat diakses. Beberapa komputer yang
saling berhubungan satu sama lain dapat menciptakan fungsi sharing yang
secara sederhana hal ini dapat disebut sebagai jaringan (networking). Fungsi
sharing yang tercipta melalui jaringan (networking) tidak hanya mencakup
fasilitas yang sangat dan sering dibutuhkan, seperti printer atau modem,
maupun yang berkaitan dengan data atau program aplikasi tertentu.
Kemajuan  lain  yang  berkaitan  dengan  online learningadalah banyaknya terminal komputer di seluruh dunia terkoneksi ke onlinelearning, sehingga banyak pula orang yang menggunakan onlinelearning setiap harinya. Mengingat onlinelearning sebagai metoda atau sarana komunikasi yang mampu memberikan manfaat besar bagi kepentingan para peneliti, pengajar, dan pembelajar, maka para pengajar perlu memahami karakteristik atau potensi onlinelearning agar dapat memanfaatkannya secara optimal untuk kepentingan pembelajaran para pembelajarnya. Keuntungan onlinelearning adalah media yang menyenangkan, sehingga menimbulkan ketertarikan pembelajar pada program-program online. Pembelajar yang belajar dengan baik akan cepat memahami komputer atau dapat mengembangkan dengan cepat keterampilan komputer yang diperlukan, dengan mengakses Web. Oleh karena itu, siswa dapat belajar di mana pun pada setiap waktu.

B.   Fungsi OnlineLearning
Menurut menurut Saul Carliner- (2003),setidak-tidaknya ada 3 fungsi atau potensi online learning  yang  dapat  dimanfaatkan  dalam  kehidupan  sehari-hari, yaitu sebagai alat komunikasi, alat mengakses informasi, dan alat pendidikan atau pembelajaran.
1.     Fungsi Alat Komunikasi
Dengan menggunakan onlinelearning, dapat berkomunikasi kemana saja
secara cepat. Misalnya, dapat berkomunikasi dengan menggunakan e-mail,
atau berdiskusi melalui chatting maupun mailing list. Berkomunikasi dengan
e-mail atau chatting berbeda dan lebih efektif dan efisien dibandingkan
dengan menggunakan telepon dan facsimile (fax) yang juga sama-sama
mampu menyampaikan informasi sangat cepat. Pada komunikasi yang
menggunakan telepon, semakin jauh jarak orang yang berkomunikasi,
semakin mahal pula biaya pulsa telepon yang harus dibayar. Pembayaran
akan semakin mahal lagi manakala waktu berkomunikasi berlangsung
lebih lama sesuai dengan banyaknya informasi yang disampaikan. Di sisi
lain, berkomunikasi melalui onlinelearning, pulsa telepon yang dibayar
hanyalah pulsa lokal. Tidak ada pengaruh jarak atau jauh-dekatnya orang
yang dihubungi (komunikan). Cukup membayar biaya pulsa telepon
lokal di samping biaya langganan bulanan kepada OnlineLearning
Service Provider (ISP), maka berbagai informasi atau dokumen yang perlu
dikomunikasikan  dapat  terkirimkan  dengan  sangat  cepat.  Manakala
dokumen yang akan dikirimkan cukup banyak, maka dokumen tersebut
dapat disiapkan secara cermat terlebih dahulu dan kemudian dikirimkan
sebagai lampiran e-mail(attachment). Dengan demikian, kemungkinan
kesalahan penyampaian informasi dapat dihindarkan.
Sedangkan komunikasi melalui facsimile (fax), prosesnya memang sama-
sama berlangsung sangat cepat. Informasi atau dokumen yang akan
dikirimkan telah dipersiapkan terlebih dahulu. Perbedaannya adalah
bahwa semakin jauh jarak tujuan pengiriman fax, maka semakin besar
pula biaya yang harus dibayar. Biaya pengiriman ini akan semakin besar
lagi manakala semakin banyak jumlah lembar dokumen yang akan
dikirimkan lewat fax. Sekalipun demikian, masih belum atau tidak ada
jaminan  mengenai  kualitas  penerimaan  dokumen  yang  dikirimkan,
karena adakalanya terjadi gangguan dalam penerimaan, seperti misalnya
tidak semua lembar dokumen secara utuh (lengkap) diterima di tempat
tujuan, di samping kualitas teks-nya ada kalanya juga tidak jelas atau
mengalami distorsi. Komunikasi yang diuraikan di atas masih bersifat dari
seorang kepada seorang yang lain (one-to-one communication). Dengan memanfaatkan teknologi onlinelearning, maka komunikasi dari seorang kepada banyak orang (one-to-many communication) dapat dilakukan secara simultan/bersamaan, yaitu misalnya melalui fasilitas e-mail, mailing list, atau chatting.

2.     Fungsi Akses Informasi
Melalui onlinelearning, dapat diakses berbagai informasi, seperti prakiraan
cuaca, perkembangan sosial, ekonomi, budaya, politik, ilmu pengetahuan,
dan teknologi yang disajikan oleh berbagai berbagai sumber tanpa harus
berlangganan. Pembelajar dapat mengakses berbagai referensi, baik yang
berupa hasil penelitian, maupun artikel hasil kajian dalam berbagai bidang.
Onlinelearning merupakan perpustakaan yang terbesar dari perpustakaan
yang ada di mana pun, sehingga pembelajar tidak harus langsung pergi
ke perpustakaan untuk mencari berbagai referensi. Melalui
onlinelearning informasi dalam berbagai bidang yang tersedia atau
perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia (global world) dapat
diakses dengan cepat diketahui oleh banyak orang. Begitu pula dengan
informasi yang menyangkut bidang pendidikan atau pembelajaran mudah, banak, dan cepat untuk diakses.
Pembelajar tidak harus hadir langsung di ruang kelas/kuliah untuk
mengikuti kegiatan pembelajaran, namun cukup hanya duduk saja dari
tempat  masing-masing  di  depan  komputer (tentunya  menggunakan
komputer  yang  dilengkapi  fasilitas  koneksi  ke  online learning)  dan
menggunakannya. Pembelajar dapat berinteraksi dengan sumber belajar,
baik yang berupa materi pembelajaran itu sendiri maupun dengan pengajar
yang membina atau bertanggungjawab mengenai materi pembelajaran.
Dengan adanya onlinelearning ini pembelajar memiliki pilihan atau
alternatif untuk belajar secara tatap muka atau melalui onlinelearning.
3.   Fungsi Pendidikan dan Pembelajaran
Perkembangan teknologi onlinelearningyang sangat pesat dan merambah ke seluruh penjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di dalamnya untuk pendidikan dan pembelajaran. Upaya yang dilakukan adalah mengembangkan   perangkat   lunak (program   aplikasi)   yang   dapat
menunjang peningkatan mutu pendidikan atau pembelajaran. Perangkat
lunak yang telah dihasilkan akan memungkinkan para pengembang
pembelajaran (instructional developers)bekerjasama dengan ahli materi
pembelajaran (content  specialists)   mengemas   materi   pembelajaran elektronik (onlinelearningmaterial). Materi pembelajaran elektronik dikemas dan dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui onlinelearning, kemudian dilakukan disosialisasikan ketersediaan program pembelajaran tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya para pembelajar. Para pengajar juga perlu memiliki kemampuan mengelola dengan  baik  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  online  melalui internet.

C.  Kedudukan OnlineLearning
Karakteristik atau potensi onlinelearning dipandang sudah memadai
sebagai dasar pertimbangan untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
melalui onlinelearning. Sebagai media pembelajaran terdapat tiga fungsi
onlinelearning di dalam kegiatan pembelajaran, yaitu sebagai suplemen,
komplemen, dan substitusi.

1.     Fungsi Tambahan
Fungsi  sebagai  suplemen           (tambahan)  yaitu  pembelajar  mempunyai
kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik atau tidak. Tidak ada kewajiban/keharusan bagi pembelajar
untuk  mengakses  materi  pembelajaran  elektronik. Walaupun  materi
pembelajaran  elektronik  berfungsi  sebagai  suplemen,  namun  jika
memanfaatkannya  tentu  saja  pembelajar  akan  memiliki  tambahan
pengetahuan atau wawasan. Peran pengajar adalah selalu mendorong,
menggugah, atau menganjurkan para pembelajarnya mengakses materi
pembelajaran elektronik yang telah disediakan.

2.     Fungsi Pelengkap
Fungsi  sebagai  komplemen        (pelengkap),  yaitu  materi  pembelajaran
elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang
diterima pembelajar di dalam kelas. Materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (penguatan) yang
bersifat enrichment (pengayaan) atau remedial (pembelajaran kembali) bagi
pembelajar di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
Pembelajar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (1) fastlearners,
yaitu  kelompok  pembelajar  yang  cepat  kemampuan  belajarnya, (2)
average or moderate learners, yaitu kelompok pembelajar berkemampuan
rata-rata, dan (3) slowlearners,yaitu kelompok pembelajar yang lamban
kemampuan belajarnya. Kelompok pembelajar average learners biasanya
kurang diperhatikan dalam pengelolaan kelas (classroommanagement)
karena mereka ini dipandang sebagai pembelajar yang tidak terlalu
bermasalah. Kelompok pembelajar yang sering mendapat perhatian atau
yang membutuhkan penanganan khusus di dalam pengelolaan kelas
adalah slowlearners dan fastlearners. Kedua kelompok pembelajar ini
memerlukan program reinforcement, baik yang sifatnya enrichment bagi
fastlearners maupun remedial bagi slowlearners. Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila pembelajar dapat dengan cepat menguasai atau memahami materi pembelajaran yang disampaikan pengajar secara tatap muka (fast learners). Kepada kelompok pembelajar ini diberi kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya adalah untuk lebih meningkatkan kualitas penguasaan para pembelajar terhadap materi pembelajaran yang disajikan pengajar di dalam kelas atau tambahan materi pembelajaran yang dinilai pengajar bermanfaat bagi pembelajar.
3.     Fungsi Pengganti
Pembelajar  diberi  beberapa  alternatif  model  kegiatan  pembelajaran.
Tujuannya  untuk  membantu  mempermudah  pembelajar  mengelola
kegiatan  pembelajarannya  sehingga  dapat  menyesuaikan  waktu  dan
aktivitas lainnya dengan kegiatan pembelajarannya. Ada tiga alternatif
model  kegiatan  pembelajaran  yang  dapat  dipilih  pembelajar,  yaitu
mengikuti kegiatan pembelajaran yang disajikan secara konvensional
(tatap muka) saja, atau sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi
melalui onlinelearning, atau sepenuhnya melalui onlinelearning.
Alternatif model pembelajaran yang dipilih oleh pembelajar tidak menjadi
masalah dalam penilaian. Setiap pembelajar yang mengikuti salah satu
model penyajian materi pembelajaran akan mendapatkan pengakuan
atau penilaian yang sama. Jika pembelajar dapat menyelesaikan program
pembelajarannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya
melalui onlinelearning, atau bahkan melalui perpaduan kedua model ini,
maka lembaga penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan
yang  sama.  Fleksibilitas  ini  sangat  membantu  pembelajar  untuk
mempercepat penyelesaian pembelajarannya.
Para pembelajar yang belajar pada lembaga pendidikan konvensional
tidak perlu terlalu khawatir lagi apabila tidak dapat menghadiri kegiatan
perkuliahan secara fisik karena berbenturan dengan kepentingan lain yang
tidak dapat ditinggalkan atau ditangguhkan. Apabila lembaga pendidikan
konvensional  tersebut  menyajikan  materi  pembelajaran  yang  dapat
diakses para pembelajar melalui onlinelearning, maka pembelajar dapat
mempelajari materi perkuliahan yang terlewatkan tersebut melalui online
learning. Dapat terjadi demikian karena para pembelajar diberi kebebasan
mengikuti kegiatan perkuliahan yang sebagian disajikan secara tatap muka
dan sebagian lagi melalui onlinelearning (m o d e l  p e m b e l a j a r a n  kedua).
Pembelajar juga dimungkinkan untuk tidak sepenuhnya menghadiri
kegiatan pembelajaran secara fisik. Sebagai penggantinya, para pembelajar
belajar melalui onlinelearning (model pembelajaran ketiga).
D.   Komponen Desain OnlineLearning
Salah satu kegiatan awal dalam pengembangan onlinelearning adalah
membuat desain. Desain tidak dapat dibuat secara instant namun perlu
pengkajian dan penelaahan yang komprehensif. Untuk itu diperlukan
prinsip-prinsip  dalam  proses  desain  itu.  Desain  yang  dibuat  akan
bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam proses onlinelearning
yaitu pengajar, pembelajar, pengembang dan termasuk penentu kebijakan
untuk membuat aturan dan penguatan desain yang sudah ada.

Desain onlinelearning memiliki 5 komponen, yang meliputi:
1.     Silabus
Silabus merupakan bentuk nyata dari sebuah perencanaan pembelajaran,
baik pembelajaran konvensional maupun untuk online. Dalam silabus
terdapat beberapa komponen kelengkapan, yaitu: standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pembelajaran, pengalaman belajar pembelajar,
alokasi waktu, dan sumber bahan/alat. Silabus merupakan bahan yang
bermanfaat sebagai pedoman bagi pengembangan pembelajaran lebih
lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan
pembelajaran, dan pengembangan penilaian.

2.     Orientasi OnlineLearning
Tujuan dari onlinelearning meliputi beberapa komponen, yaitu: biografi
pengajar dan staf pendukung program, harapan dan keinginan pembelajar yang meliputi di dalamnya tentang opini dan karakteristik dari pembelajar
sebagai peserta dalam program ini. Terdapat juga deskripsi singkat program
dan informasi informasi awal sebagai pengantar program berikutnya, juga
petunjuk penggunaan program buat pengguna. Terdapat juga informasi
untuk kemudahan mengakses program, fasilitas yang tersedia, link-link
yang dapat memperkaya program ini dan cara-cara untuk mendownload
bahan yang tersedia di program ini.
3.     Materi Pembelajaran
Pada komponen ini tersaji materi pembelajaran pokok yang dapat diakses
oleh pembelajar baik berupa materi pembelajaran inti maupun materi
pembelajaran tambahan (suplemen) atau materi pengayaan (enrichment).
Materi disajikan dalam bentuk full teks atau materi pembelajaran yang
disajikan secara lengkap maupun materi pembelajaran yang disajikan dalam
bentuk pokok-pokoknya saja. Dalam pengemasan materi pembelajaran ini
dapat melibatkan software yang lain, misalnya PowerPoint. Dalam software ini materi pembelajaran yang disajikan hanya pokok-pokoknya, sedangkan uraiannya ada pada penyaji dan interpretasi pembelajar.

4.     Calender
Kalender pendidikan cukup penting sebagai informasi kepada pengajar
dan pembelajar, hari-hari efektif untuk belajar, jadwal ujian, jadwal untuk
registrasi pembelajar baru yang baru bergabung dengan progam, dan
waktu libur. Kalander dapat dijadikan sebagai patokan pembelajar dan
pengajar kapan untuk mengawali pembelajaran dan kapan pembelajaran
atau program online ini berakhir.

5.     Site Map
Site map adalah peta program. Jika pembelajar akan menjelajah program
online  ini  dapat  melihat  sebelumnya  peta  program.  Terdapat  peta
kedudukan model atau materi pembelajaran. Apa yang perlu dipelajari
oleh pembelajar, termasuk urutan dan ruang lingkup materi pembelajaran
yang perlu dipelajari oleh pembelajar. Hal ini mempermudah pembelajar
untuk belajar lebih efektif dan efisien. Site map dapat juga disajikan dalam
bentuk visual yaitu flow chart, sehingga lebih mudah.
Pembelajaran online memerlukan sebuah desain lanjutan atau desain
yang lebih tinggi yang disebut dengan “Advanced Methode in Distance
Education” dan langsung diaplikasikan pada salah satu bentuk (tool)
onlinelearning yaitu Web Cources Tool (WebCT). Dengan menggunakan
model ini akan diperoleh keberhasilan dalam pembelajaran online. WebCT
memfasilitasi format diskusi dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
(1) Adanya inisiatif dari individu pembelajar untuk terlibat dalam diskusi,
(2) Penyaluran post yang masuk, (3) Ekspresi atau reaksi dari post yang masuk, (4) Post atau bahan-bahan diskusi yang di post atau ditampilkan bersifat relevan, (5) Adanya kontribusi atau peran aktif dari peserta dalam kegiatan diskusi secara aktif, tanpa peran serta semua pihak diskusi tidak pernah akan berjalan dengan baik.
E.  Strategi Pembelajaran Online Interaktif Yang    Tepat (Using Interactive Teaching And Learning Strategies)
Ada   anggapan   bahwa   pembelajaran   jarak   jauh   tidak   membuat
pembelajaran menjadi interaktif berbeda dengan pembelajaran secara
tatap muka langsung (face to face).  Justru pembelajaran jarak jauh justru sebenarnya memberikan kontribusi secara kuantitas terhadap interaksi belajar mengajar. Interaksi pada pembelajaran tatap  muka/face  to  face  sebenarnya  terbatas,  yaitu  antara  pengajar dengan pembelajar saja, namun pada pembelajaran jarak jauh interaksi
pembelajaran lebih menyebar. Interaksi akan terjadi antara pembelajar
dengan pembelajar, pembelajar dengan pengajar, pembelajar dengan
lingkungan, atau pembelajar dengan media. Pembelajaran jarak jauh online dapat mengaktifkan pembelajar yaitu pembelajar berinteraksi secara aktif untuk menggunakan komputer, aktivitas fisik dan mental akan terjadi secara intensif misalnya dop and drag, input data, pencarian data yang dibutuhkan, menyusun materi pembelajaran dan lain-lain.

F.        Perbedaan E-Learning dengan Online Learning
Pengertian e-learning memiliki perbedaan dengan online learning. Online learning merupakan bagian  dari e-learning,  hal  ini  seperti  yang  dinyatakan  oleh  Australian  National Training  Authority (2003)  bahwa e-learning merupakan  suatu  konsep  yang  lebih  luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang  menggunakan  semua  media  elektronik  untuk  membuat  pelatihan  dan  pendidikan vokasional  menjadi lebih  fleksibel.  Online  learning  merupakan suatu  pembelajaran yang  menggunakan  internet,  intranet  dan  ekstranet,  atau  pembelajaran  yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global).

Secara harfiah memang E-Learning berarti pembelajaran yang menggunakan sarana elektronik. Sarana elektronik tersebut ada berbagai macam seperti radio, tape/audio, tv interaktif, CD ROM, seperangkat komputer, LCD Proyektor, OHP, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa sarana dalam e-learning tidak hanya media elektronik yang terhubung dengan jaringan komputer.

Lain halnya dengan online learning yang memiliki makna pembelajaran yang dilakukan dengan media elektronik secara online. Syarat utama media elektronik yang bisa dikatakan online adalah terhubung dengan internet. Oleh karena itu, pembelajaran yang menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet disebut sebagai online learning.

G.       Keterkaitan E-Learning dengan Online Learning
Meskipun e-learning berbeda konsep dengan online learning¸ kedua cara pembelajaran ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Seperti halnya ketika menggunakan video sebagai media pembelajaran. Pada suatu saat guru menyampaikan materi menggunakan komputer dan LCD proyektor untuk menjalankan video di dalam kelas tetapi pada suatu saat guru menyampaikan materi dengan menaruh video tersebut pada blog-nya untuk diakses secara online oleh siswa. Hal ini menunjukkan bahwa dengan bentuk bahan ajar yang sama, seorang guru bisa menerapkan e-learning dan online learning dalam kelasnya.
Penerapan ­konsep ­e-learning sendiri menggunakan metode synchronous dan asynchronous dalam penyampaian bahan ajarnya. Pada metode synchronous,guru dan siswa dalam kelas dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda. Hal ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan teleconference dalam pembelajaran. Seorang siswa dari Universitas Negeri Malang, Indonesia bisa berkomunikasi dengan seorang dosen di Massachusetts Institute of Technology, USA. Pada metode asynchronous, guru dan siswa dalam kelas yang sama secara virtual meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda. Disini diperlukan peranan sistem (aplikasi) e-learning berupa Learning Management System dan content baik berbasis text atau multimedia. Sistem dan content tersedia dan online dalam 24 jam nonstop di internet. Guru dan siswa bisa melakukan proses belajar mengajar dimanapun dan kapanpun.
Online learning juga menggunakan metode penerapan yang sama dengan e-learning dalam penyampaian bahan ajar. Secara synchronous hal ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan live streaming yang menggunakan media online dalam penyampaian bahan ajar dan komunikasi antara guru dengan siswanya. Pada asynchronous hal itu terlihat pada penggunaan website dalam pembelajaran yang dilakukan. Dengan menggunakan website guru bisa menciptakan kelas virtual yang mampu memberikan pembelajaran meskipun pada saat itu guru sedang tidak dalam kondisi online.


BAB III
KESIMPULAN

Pada dasarnya online learning memungkinkan fleksibilitas akses, dari mana saja dan biasanya kapan saja. Hal itu memungkinkan pembelajaran mampu menghemat  waktu dan ruang. Namun, bahan ajar harus dirancang dengan baik dengan melibatkan peserta didik dan mampu meningkatkan pembelajaran. Online learning memiliki banyak kelebihan, tetapi hal itu juga harus ditunjang dengan komitmen dan sumber daya, dan harus dilakukan dengan benar. Hal itu berarti bahan ajar dalam online learning dengan baik, dengan fokus pada pembelajaran dan peserta didik dengan alat pendukung yang memadai. Online learning harus memiliki otentisitas tinggi (siswa harus belajar dalam konteks lingkungan kerja), interaktivitas tinggi, dan kolaborasi yang tinggi.

Banyak istilah yang digunakan untuk mendefinisikan online learning sehingga menyulitkan untuk mengembangkan definisi yang generik. Carliner (1999) mendefinisikan online learning sebagai materi pembelajaran yang disajikan dengan komputer. Khan (1997) mendefinisikan onlinelearning sebagai pendekatan inovatif untuk memberikan instruksi  kepada peserta didik yang berjarak jauh dan menggunakan web sebagai media perantara. Ketentuan yang bersifat umum yang digunakan termasuk e-learning, internet learning, distributed learning,networked learning, tele-learning, virtual learning, computer assisted learning, web based learning, dan distance learning. Semua istilah ini menyiratkan bahwa pelajar berada pada suatu jarak tertentu dengan guru atau instruktur dan menggunakan beberapa bentuk teknologi (umumnya komputer) untuk mengakses bahan ajar serta untuk berinteraksi dengan tutor atau instruktur dan peserta didik lainnya.
Online learning adalah pembelajaran yang menggunakan komputer yang terhubung dengan internet secara online dan merupakan salah satu jenis e-learning. Perbedaan e-learning dengan online learning adalah e-learning menggunakan cakupan media elektronik yang lebih luas dengan tidak membatasi apakah media tersebut bisa diakses secara online atau tidak sedangkan online learning membatasi cakupan media pembelajaran yang digunakan harus mampu diakses secara online. Keterkaitan e-learning dengan online learning salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan metode penyampaian bahan ajar yang sama, yaitu synchronous dan asynchronous. Metode synchronous berarti pembelajaran terjadi dengan kondisi guru dan siswa dalam kelas dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda. Metode asynchronous berarti pembelajaran terjadi dalam kondisi guru dan siswa dalam kelas yang sama secara virtual meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda


DAFTAR PUSTAKA


Anderson, Terry & Fathi Elloumi. 2004. Theory and Practice of Online Learning. Athabasca University(http://e-learning.um.ac.id/), diakses pada tanggal 26 oktober 2015 pukul 16:20

Marfuatun. Variasi Pembelajaran melalui Penerapan E-Learning. Jurdik Kimia FMIPA UNY

Margaret driscoll, saul carliner  2005. Advanced Web-Based Training Strategies Pfeiffer An Imprint of Wiley 989 Market Street, San Francisco

                              .Pembelajaran Melalui Internet di Perguruan Tinggi. Dalam
Jurnal Teknodik April 2007. Jakarta : Pustekkom Depdiknas.

Prawiradilaga, Dewi Salma dan Evelina Siregar. 2004. Mozaik Teknologi
Pendidikan, Jakarta : Prenada Media.
Setyono. 2008. Perbedaan E-Learning dengan I-Learning(http://setyono.blogspot.com/2008/06/perbedaan-e-learning-dan-ilearning.html) diakses pada tanggal 26 oktober 2015 pukul 16:05

Saul Carliner 2004. An Overview of Online Learning Second Edition HRD Press, Inc.

Selma KoƧ and all. 2015 Assessment in Online and Blended Learning Environments- Information Age Publishing, Inc.

Timothy J. Newby at all 2011. Educational Technology For Teaching and Learning. Pearson education, inc

Terry Anderson &Fathi Elloumi 2004. Theory and Practice of Online Learning. Athabasca University Canada

Kitao 2002. “ Elearning Understanding Its True Business Value And Opportunity”  www.ekofeum.ac.id

Wahono, Satria Romi. Meluruskan Salah Kaprah tentang E-Learning (http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-elearning/), diakses pada tanggal 26 oktober 2015 pukul 16:00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar