Sabtu, 26 September 2015

MAKALAH PENILAIAN




BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang

Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan.

Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.[1]
Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah anatara lain :
Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan.
·               Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.
·               Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.  Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
·               Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah  lingkungan hidup, berkaitan dengan materi Biologi atau Geografi. Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus  lingkungan tertentu (kegiatan pelestarian/kasus perusakan lingkungan hidup). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program perlindungan satwa liar. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan ekspor kayu glondongan ke luar negeri.[2]
B.        Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Penilaian ?
2.      Apa itu Penilaian Pengetahuan ?
3.      Apa itu Penilaian Ketrampilan ?

C.         Batasan Masalah.
Dalam penulisan Makalah ini, penulis membatasi bahasan yang di sesuaikan dengan rumusan masalah, sebagai acuan penulis untuk menjabarkan dan mengembangkan pemikiran tentang penilaian.

 
  
BAB II
PEMBAHASAN
A.        Pengertian Penilaian.
Penilain Merupakan bagian integral dalam pembelajaran, banyak istilah yang sering digunakan dalam hubungannya dengan penilaian, yakni pengukuran, evaluasi, tes dan penilain itu sendiri. Namun, secara teknis istilah-istilah tersebut bermuara pada hakekat yang berbeda-beda. Pengukuran adalah proses sistematis untuk memperoleh derajat sesuatu yang diukur yang mana sifat atau atribut hadir dalam individu atau objek.[3]
Dengan kata lain, pengukuran adalah tugas sistematis tentang nilai-nilai numeric atau angka untuk sifat atau atribut pada orang atau objek, dalam pendidikan, nilai numeric, kecerdasan, bakat, atau kemampuan dan prestasi diukur dan diperoleh dengan menggunakan instrument seperti tes standar. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai atribut dijabarkan ke angka melalui kegiatan pengukuran. Jadi pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Pengukuran adalah proses mengukur sejauh mana seseorang atau sesuatu memiliki karakteristik, kualitas, atau ciri tertentu.
Evaluasi dipahami secara beragam oleh para ahli, secara umum evaluasi merupakan proses menentukan kelayakan atau menilai dari sesuatu melalui kajian dan penilaian secara cermat. Evaluasi adalah analisis dan perbandingan tentang kemajuan saat ini dibandingkan dengan rencana sebelumnnya, yang berorientasi untuk memperbaiki rencana pelaksanaan yang akan dating, evaluasi merupakan bagian dari proses manajemen yang berkelanjutan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Evaluasi adalah proses penentuan kelayakan atau nilai dari sesuatu yang mencakup penentuan nilai tentang sesuatu atau orang yang dievaluasi. Jadi, evaluasi bertujuan untuk menentukan kualitas dari suatu kinerja saat ini, dan dapat dijadikan untuk mengambil keputusan dalam menerima atau menolak sesuatu
Gallagher dalam Asiaeuniversity ( 2012) menjelaskan, bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan atau tugas yang dirancang untuk memperoleh perilaku tertentu dari orang yang diuji. Istilah Penilaian dan tes sering digunakan secara bergantian oleh banyak orang, namun kata tes menyiratkan instrumen kertas dan pensil yang diberikan dibawah kondisi yang ditentukan sebelumnya yang dberikan untuk seluruh siswa. Secara tradisional, tes sering digunakan oleh para guru yang merujuk pada serangkaian tugas tertulis yang mana siswa menanggapinya secara tertulis. Contohnya essay atau soal-soal jawaban pendek.[4]
Penilaian ( Assesment ) adalah proses pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan dengan sengaja di dalam ruang kelas. Istilah penilaian jauh lebih luas dari pengukuran dengan tujuan untuk membuat suatu keputusan tentang siswa baik secara kelompok maupun individu, Penilaian mencakup kegiatan mendiagnosis kesulitan, memverifikasi belajar setelah pelaksanaan pembelajaran, mengindentifikasi prasyarat dalam belajar dan menentukan pada bagian mana harus mengawali pembelajaran.
LDA of America (2012) menjelaskan tentang penilaian yang merujuk pada pengumpulan data melalui penggunaan bernagai macam pengukuran instrument dan prosedur informal dan standar. Sedangkan Indiana University ( 2012:1 ) memberi definisi penilaian sebagai berikut : Penilaian adalah proses mengumpulkan dan mendiskusikan informal dari berbagai sumber dalam rangka untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai apa yang siswa tahu, mengerti, dan dapat melakukan dengan pengetahuan mereka.[5]
Ø Penilaian Sikap
Contoh muatan KI-1 (sikap spiritual) antara lain: ketaatan beribadah, berperilaku syukur, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, toleransi dalam beribadah. Contoh muatan KI-2 (sikap sosial) antara lain: jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri, bisa ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antarteman, dan jurnal. Penilaian sikap ini bukan merupakan penilaian yang terpisah dan berdiri sendiri, namun merupakan penilaian yang pelaksanaannya terintegrasi dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan, sehingga bersifat otentik (mengacu kepada pemahaman bahwa pengembangan dan penilaian KI 1 dan KI 2 dititipkan melalui kegiatan yang didesain untuk mencapai KI 3 dan KI 4.[6]
1.      Observasi
Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati, terkait dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini dilakukan saat pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.
2.      Penilaian Diri
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk melakukan refleksi diri/perenungan dan mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
3.      Penilaian Antarteman
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik  untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung (biasanya dilakukan ketika peserta didik melakukan kegiatan kelompok, dan penilaian dilakukan antar anggota kelompok). Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
4.      Jurnal Catatan Guru
Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi.
B.         Penilaian Pengetahuan
Pada kesempatan ini kita sama-sama mengkaji teknik penilaian pengetahuan. Penilaian pengetahuan ini merupakan bagian dari penilaian autentik. Penilaian pengetahuan bisa ditempuh dengan beberapa aspek. Secara esensi, penilaian autentik muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pengukuran kecerdasan yang hanya berdasarkan aspek pengetahuan. Namun, meski demikian, bukan berarti penilaian pengetahuan ditiadakan. Penilaian pengetahuan tetap diadakan karena Kurikulum 2013 menghendaki peserta didik yang cakap dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan.[7]
Ø   Aspek pengetahuan dapat dinilai dengan cara berikut ini.
1.      Tes tulis
Meski konsepsi penilaian autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap bisa dilakukan. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi,  jawaban singkat atau pendek, dan uraian. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.
Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama.
2.      Tes Lisan
Tes lisan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru secara ucap (oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf yang diucapkan.
3.      Penugasan
Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugasnya.
C.        Penilaian Keterampilan
Aspek  keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut:
a.        Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Misalnya tugas memainkan drama dan bermain peran. Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan partisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur projek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif maupun laporan kelas.[8]
Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja, antara lain sebagai berikut.
   
   1. Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
2. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.
     3. Skala penilaian (rating scale). Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 4 = baik sekali, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = kurang.
  4. Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara seperti ini tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan
    5. Rubrik: alat pengukuran yang mempunyai skala atau point yang tetap dan jelas untuk setiap kriteria penilaian. Sangat disarankan untuk menggunakan rubrik yang mempunyai 4 poin skala (1-4) sehingga pemberian skor nilai tengah dapat dihindarkan (misalnya skala 1-3 akan terjadi sebuah kecenderungan untuk memberikan skor 3 pada sebagian besar hasil ).
b.       Penilaian Projek
Penilaian projek merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian projek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain. Penilaian projek sangat dianjurkan karena membantu mengembangkan keterampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir kreatif) peserta didik.
Selama mengerjakan sebuah projek pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Dengan demikian, pada setiap penilaian projek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.
1.      Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2.      Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
3.      Keaslian sebuah projek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian projek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk projek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian projek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis.
c.        Penilaian Portofolio
Penilaian dengan memanfaatkan portofolio merupakan penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan  keterampilan peserta didik dalam bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses dan pencapaian hasil belajar peserta didik.Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema.[9]
Berikut ini hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio.
1.      Masing-masing peserta didik memiliki portofolio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
2.      Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulkan/disimpan.
3.      Sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki  hasil kerja dan sikap.
4.      Peserta didik dengan kesadaran sendiri menindak lanjuti catatan guru.
5.      Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik  dapat terlihat.
Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.


BAB III
PENUTUP
  
     A. Kesimpulan.
Penilain Merupakan bagian integral dalam pembelajaran, banyak istilah yang sering digunakan dalam hubungannya dengan penilaian, yakni pengukuran, evaluasi, tes dan penilain itu sendiri. Namun, secara teknis istilah-istilah tersebut bermuara pada hakekat yang berbeda-beda. Penilain Merupakan bagian integral dalam pembelajaran, banyak istilah yang sering digunakan dalam hubungannya dengan penilaian, yakni pengukuran, evaluasi, tes dan penilain itu sendiri. Namun, secara teknis istilah-istilah tersebut bermuara pada hakekat yang berbeda-beda. Pengukuran adalah proses sistematis untuk memperoleh derajat sesuatu yang diukur yang mana sifat atau atribut hadir dalam individu atau objek
 Aspek pengetahuan dapat dinilai dengan cara berikut ini.
1.      Tes tulis
2.      Tes Lisan
3.      Penugasan
Aspek  keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut:
1.      Penilaian Kinerja
2.      Penilaian Projek
3.      Penilaian Portofolio

B.       B.     Saran
Dari uraian diatas penulis berharap saran kritik yang bersifat konstruktif dari para mahasiswa sangat kami harapkan untuk penulisan makalah dimasa yang akan dating, akhirnya penulis hanya bias berharap semoga makalah ini bias menambah wawasan keilmuan kita tentang desain pembelajaran. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar