Minggu, 29 Mei 2016

PENILAIAN AUTENTIK

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Penilaian (Assessment)
Penilaian merupakan bagian dari komponen evaluasi yang penting dalam proses belajar mengajar di samping komponen-komponen yang lainnya. Mengingat dengan penilaian dapat diketahui bagamana proses belajar-mengajar berlangsung, faktor-faktor yang menghambat atau mendorong pencapaian tujuan belajar, bahkan penilaian dapat diketahui tingkat keberhasilan suatu kegiatan belajar mengajar.
Penilaian yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah assessment berarti menilai sesuatu. Menilai itu berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu kepada ukuran tertentu seperti menilai baik-buruk, sehat-sakit, pintar atau bodoh dan sebagainya.[1]
Linn dan Gronlund memberikan pengertian penilaian adalah suatu istilah umum yang meliputi prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.[2] Widoyoko menyatakan bahwa penilaian dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan atau memaknai data hasil suatu pengukuran berdasarkan kriteria atau standar maupun aturan-aturan tertentu. Dengan kata lain, penilaian dapat juga diartikan sebagai suatu kegiatan pemberian makna atau ketepatan kualitas hasil suatu pengukuran dengan cara membandingkan data hasil pengukuran dengan kriteria atau standar tertentu.[3]
Reynolds, Livingston dan Wilson mengatakan assessment is an integral component of the teaching process. Assessment can and should provide information that both enhances instruction and promotes learning.[4] Penilaian adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penilaian dapat dan akan memberikan informasi tentang peningkatan pengajaran dan pengetahuan. Lebih lanjut Reynolds, Livingston dan Wilson mengatakan, assessmen is any sistematic procedure for collecting information that can be used to make inferences about the characteristics of people or objects.[5] Menurut Permendikbud No. 81 A  Tahun 2013 Penilaian adalah prosedur yang sistematis untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan tentang karakter manusia atau objek. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi dalam pengambilan keputusan.[6] Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpsisahkan dari dalam sistem pendidikan saat ini.
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan suatu proses kegiatan yang direncakan dan dilakukan secara sistematik dengan menggunakan berbagai cara dan alat dengan tujuan memperoleh informasi untuk memberikan nilaia kepada siswa dengan membandingkan kemampuan siswa dengan kriteria yang telah ditentukan guna mengetahui pencapaian kompetensi siswa serta membantu siswa untuk membuat keputusan dalam proses pembelajaran.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Penilaian Autentik ?
2.      Bagaimana Teknik Penilaian Autentik ?
3.      Bagaimana Penilaian Autentik yang digunakan dalam kurikulum 2013 ?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian penilaian autentik
2.      Untuk mengetahui bagaimana teknik penilaian autentik
3.      Untuk mengetahui penilaian autentik dalam kurikulum 2013












BAB II
PEMBAHASAN

A.   Penilain Autentik / Assessmen Autentik

Assessmen atau penilaian autentik adalah salah satu bentuk assessmen yang meminta peserta didik untuk menerapkan konsep atau teori pada dunia nyata. Autentik berarti keadaan sebenarnya, yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik.[7] Johnson menyatakan bahwa penilaian autentik mengajak para siswa untuk menggunakan pengetahuan akademik dalam konteks dunia nyata untuk tujuan yang nyata.[8] Sedangkan Jacobsen  menyatakan penilaian autentik secara langsung mengukur performa siswa melalui tugas-tugas ”kehidupan-nyata”.[9]
Penilaian autentik menurut Basrowi dan Siskandar adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.[10]  Menurut Kunandar asesmen autentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikaan dengan tuntunan kompetensi yang ada standar kompetensi (SK) atau kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).[11] Sedangkan Majid menyatakan bahwa penilaian autentik adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa.[12] Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan baik.
Assessmen autentik berbeda dengan assessmen tradisional dalam beberapa aspek. Pada assessmen tradisional peserta didik cenderung memilih respon yang tersedia, sedang pada assessmen autentik peserta didik menampilkan atau mengerjakan suatu tugas. Pada assessmen tradisional kemampuan perpikir yang dinilia cenderung pada level memahami dan menerapkan, serta fokusnya adalah pada guru. Pada assessmen autentik kemampuan berpikir yang dinilai adalah pada level konstruksi dan aplikasi dan fokus pada peserta didik. Bukti level kemampuan peserta didik pada assessmen tradisional adalah tidak langsung, sedangkan pada assessmen autentik bukti kemampuan peserta didik adalah langsung, yaitu bisa diamati.[13]
Lebih lanjut Mardaphi menjelaskan bahwa assessmen autentik bertujuan untuk mengetahui kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik. Kompetensi yang dimiliki bersifat multi dimensi oleh karena itu semua dimensi tersebut sedapat mungkin diukur. Dimensi kemampuan peserta didik yang paling sederhana adalah kemampuan kognigtif, psikomotorik, dan afektif.[14] Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut harus dilakukan assessmen. Hasilnya berupa profil peserta didik. Hasil ini digunakan untuk menyusun strategi belajar selanjutnya.
Selanjutnya Kunandar menjelaskan bahwa dalam assessmen autentik selain memperhatikan aspek kompetensi sikap (afektif), kompetensi pengetahuan (psikomotorik) serta variasi instrumen dan alat tes yang digunakan juga harus memperhatikan input, proses dan output peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik juga harus dilakukan pada awal pembelajaran (penilaian input), selama pembelajaran (penilaian proses), dan setelah pembelajaran (penilaian output).[15]
Beberapa prinsip menurut Hayat antara lain : (1) proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not a part from, intruction); (2) penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real word problem); (3) penilaia harus menggunakan berbagai ukuran, metoda, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; dan (4) penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognigtif, afektif, dan sensori-motorik).
Nitko menjelaskan ada empat fitur yang harus dimasukkan ketika merancang assessmen autentik, yakni (1) emphasize aplications, yaitu assessmen autentik yang menilai apa yang dapat dilakukan siswa, selain menilai apa yang siswa ketahui, (2) focus on direct assessment, yaitu langsung menilai apa yang menjadi tujuan pembelajaran, (3) use realistic problems, yaitu tugas yang diberikan harus realistis yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) encourage open-ended thinking, yaitu tugas yang diberikan harus bersifat terbuka, sehingga menuntut siswa untuk menemukan lebih dari satu jawaban yang benar.[16]
Intinya dengan assessmen autentik, pertanyaan yang ingin dijawab adalah “apakah peserta didik belajar?”. Bukan “Apa yang sudah diketahui peserta didik?”. Jadi peserta didik dinilai kemampuannya dengan berbagai cara, tidak hanya dari hasil ulangan tertulis. Prinsip utama asesmen dalam pembelajaran tidak hanya menilai apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga menilai apa yang dilakukan peserta didik. Penilaian itu mengutamakan penilaian kualitas hasil kerja peserta didik dalam menyelesaikan suatu tugas.
Guru dapat menerapkan berbagai teknik penilaian dalam penilaian autentik yang disesuaikan dengan karakteristik dan tuntunan materi atau kompetensi. Suatu materi atau kompetensi dapat diukur atau dinilai oleh lebih dari satu teknik penilaian dengan catatan teknik penilaian tersebut sesuai dengan tuntunan dan karakteristik kompetensi tersebut. Berikut ini ada beberapa teknik penilaian yang umumnya digunakan antara lain: (1) penilaian kinerja atau unjuk kerja, (2) penilaian tertulis, (3) penilaian produk, (4) penilaian proyek, (5) penilaian sikap, (6) penilaian diri. Namun untuk memfokuskan bahan kajiannya berikut ini hanya akan dijelaskan assessmen autentik bentuk proyek dan bentuk unjuk kerja.
1.         Penilaian Proyek
Penilaian proyek sering disebut pendekatan proyek adalah investigasi mendalam mengenai suatu topik nyata.[17] Penilaian proyek merupakan kegiatan terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data.[18] Hal yang sama juga disampaikan oleh Kusaeri, penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan seorang atau sekelompok siswa dalam periode atau waktu tertentu.[19] Tugas tersebut berupa kegiatan sejak perencaaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pelaksanaan tugas, pengolahan, dan penyajian produk (bila berupa barang dan jasa) dan laporan tertulis. Proyek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan peserta didik pada pembelajaran tertentu, kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan peserta didik untuk mengkomunikasikan informasi.[20] Penilaian proyek dapat dilakukan pada semua mata pelajaran dan disemua jenjang pendidikan. Dengan proyek tersebut akan didapat informasi tentang pemahaman dan pangetahuan siswa pada pembelajaran tertentu.[21]
Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian proyek yaitu: (1) kemampuan pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan, (2) relevansi, yaitu kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran, dan (3) keaslian, yaitu proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan konstribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.[22]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan dan pembuatan spesifikasi proses suatu proyek yaitu: (1) pemilihan topik: pemilihan topik dilakukan berdasarkan petunjuk dan arahan guru. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memilih topik yang sesuai sehingga topik yang dipilih tidak terlalu luas atau terlalu sempit, (2) pembuatan diagram terhadap topik yang dikenai proyek: penggunaan diagram bertujuan untuk mempermudah siswa di dalam melihat hubungan antara ide atau topik yang diproyekkan. Diagram ini merupakan representasi visual dari hubungan koseptual yang sangat bermanfaat di dalam perencanaan proyek., (3) pembuatan rincian tahapan kerja: kerja dirumuskan oleh guru dengan cara memberikan lembar kerja proyek kepada siswa. Tujuannya agar siswa dapat membuat kerangka proyek beserta strategi kerjanya., dan (4) monitoring terhadap kerja proyek.[23]
Menurut Bastari dan Witjaksono, kemampuan yang diperoleh siswa melalui proyek yaitu: (1) kemampuan merencanakan dan mengorganisasikan penelitian, (2) kemampuan bekerja dalam kelompok, (3) kemampuan untuk melaksanakan tugas secara mandiri, (4) kemampuan mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi, (5) kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan data, (6) kemampuan melaporkan/meyampaikan hasil.[24]
Untuk meningkatkan mutu dari penilaian proyek, maka guru membuat kriteria yang memuat kompetensi penting dan mencatat penilaian tersebut secara sistemati. Kriteria penilaian yang jelas merupakan dasar dari petunjuk penilaian proyek. Ada tiga cara yang dapat dilakukan guru dalam melakukan penilaian proyek, yaitu: penilaiaan holistik, skala penilaian analitik, dan pencatatan dengan cheklist.[25]
Penilaian proyek dapat diterapkan di kelas oleh guru sebagai sarana untuk mengembangkan dan megamati sejauh mana siswa terampil dalam menyusun suatu perencanaan, penyelidikan, dan melakukan analisis terhadap kerja proyek yang diberikan. Penilaian proyek dapat menilai keterampilan maupun pengetahuan yang memerlukan aplikasi, seperti: merencanakan dan mengorganisasi penelitian, bekerja dalam kelompok, dan penyelesaian masalah. Adapun manfaat penilaian proyek menurut muslich, yaitu: (1) keterampilan penyelidikan secara umum, (2) pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, (3) kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam suatu penyelidikan, dan (4) kemampuan menginformasikan subjek secara jelas.[26]
Sama halnya seperti bentuk-bentuk penilaian yang lain, penilaian autentik bentuk proyek juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Beberapa kelebihan antara lain: (1) peserta didik lebih bebas mengeluarkan ide, (2) banyak kesempatan untuk berinteraksi, (3) mendidik peserta didik lebih mandiri dan bertanggung jawab, (4) meringankan guru dalam pemberian materi pelajaran, (5) dapat meningkatkan reativitas peserta didik, (6) ada rasa tanggung jawab dari peserta didik terhadap tugas-tugas yang diberikan, dan (7) guru dan peserta didik lebih kreatif.[27] Sedangkan kelemahannya antara lain: (1) untuk kelompok peserta didik yang kurang bertanggung jawab hanya titip nama (tidak terpantau), (2) didominasi oleh peserta didik yang mampu bekerja (padai), (3) tidak dapat terpantau oleh guru, (4) hasil yang dicapai kurang maksimal (karena sering menunda-nunda pekerjaan), (5) hasilnya kurang objektif, (6) dalam proses belajar mengajar (PBM) akan banyak menghabiskan waktu, (7) tugas yang dibuat belum tentu hasil pekerjaan peserta didik, dan (8) berat (bagi peserta didik) apabila semua guru memberi tugas (harus ada kolaborasi)[28]
Berdasarkan teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian proyek adalah suatu kegiatan menilai terhadap suatu tugas yang dilakukan pada periode atau waktu tertentu. Kegiatan menilai ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, menerapkan konsep dan pemahaman terhadap mata pelajaran, serta dapat mengkomunikasikan informasi yang didapat mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data.
a.  Teknik Penilaian Proyek
Penilaian cara ini dapat dilakukan mulai dari perencanaan, proses selama pengerjaan tugas, dan terhadap hasil proyek. Dengan demikian guru dapat menetapkan hal-hal atau tahapan-tahapan yang perlu dinilai, sepeerti penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data, kemudian menyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitiannya juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian ini dapat berupa daftar cek (cheklist) atau skala rentang (rating skala).[29]
2.            Penilaian Unjuk Kerja
Salah satu bentuk penilaian yang menjadi penilaian alternatif dalam menilai aktivitas dan kemampuan siswa adalah penilaian kinerja atau unjuk kerja. Penilaian unjuk kerja secara sederhana dapat dinyatakan sebagai penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu perbuatan. Widoyoko mendefinisikan bahwa penilaian kinerja merupakan penilaian dilakukan dengan mengamati kegiatan siswa dalam melakukan sesuatu. Dengan istilah yang sederhana penilaian kinerja dapat diartikan sebagai penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditunjukkan melalui suatu perbuatan. Dalam pengertian yang lebih luas penilaian kinerja dapat diartikan penilaian terhadap perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk.[30] Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Sudaryono, penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu.[31]
Menurut Nitko assessmen kinerja adalah A performance assessment is a procedure in which you use work assignments or task to obtain information about how well a student has learned.[32] Yang artinya, bahwa penilaian kinerja adalah sebuah prosedur dimana anda menggunakan tugas kerja atau tugas untuk memperoleh informasi tentang seberapa baik siswa telah belajar. Sementara itu, Majid menyatakan bahwa penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.[33] Pendapat yang sama juga disampaikan Kusaeri, penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang meminta siswa mendemonstrasikan tugas tertentu guna mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Tugas yang dimaksud biasanya terkait dengan praktik kehidupan sehari-hari.[34]
Setiadi menyatakan bahwa “Performance Assessment” adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks.[35] Selanjutnya Setiadi menyatakan bahwa “Performance Assessment” adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang dinginkan.[36]
Sudaryono menyatakan, penilaian unjuk kerja ini cocok dilakukan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek dilaboratorium, praktek sholat, praktek olahraga, presentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi atau deklamasi, dan lain-lain.[37] Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.[38]
Popham menjelaskan setidaknya ada tiga fitur yang harus dimiliki dalam melakukan penilaian kinerja, yaitu: (1) Multiple Criteria, kinerja sisiwa dinilai menggunakan lebih dari satu kriteria, (2) Prespecified guality standards, masing-masing kinerja siswa harus ditentukan kriteria yang jelas sebelum mengevaluasi kualitas kinerja siswa, (3) judgmental apparsial, melakukan penilaian apakah penilain kinerja siswa dapat diterima.[39]
Penyusunan tugas membutuhkan langkah-langkah penting, agar dapat menyusun tugas yang baik dan cukup menggambarkan komplesitas. Oleh sebab itu, bagi guru dibutuhkan kemampuan dan keterampilan yang baik melalui pelatihan yang memadai. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru menurut Zainul adalah sebagai berikut: (1) Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mengerjakan atau menyelesaikan tugas. Identifikasi pengetahuan keterampilan tersebut meliputi; (a) jenis pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dapat dilatih dan dicapai oleh sisiwa; (b) pengetahuan dan keterampilan bernilai tinggi untuk dipelajari; (c) penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut memang terdapat dalam kehidupan nyata di masyarakat, (2) Merancang tugas-tugas untuk asesmen kinerja yang memungkinkan siswa dapat menunjukkan kemampuan berpikir dan keterampilan, dan (3) Menetapkan kriteria keberhasilan yang akan dijadikan tolok ukur untuk menyatakan bahwa seorang siswa telah mencapai tingkat mastery lintas pengetahuan atau keterampilan yang diharapkan.[40]
Dalam mengembangkan tugas-tugas untuk penilaian unjuk kerja ada langkah-langkah yang harus diperhatikan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi terhadap langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik, (2) menuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan dan menghasilkan output yang terbaik, (3) membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur. Kriteria yang dibuat jangan terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas atau melakukan sesuatu kegiatan, (4) mendefinisikan dengan jelas kriteria kemampuan-kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang dapat diamati (observable), (5) mengurutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati, dan (6) kalau ada, periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria-kriteria kemampuan yang dibuat sebelumnya oleh orang lain.[41]
Untuk mengevaluasi apakah penilaian unjuk kerja sudah dianggap berkualitas baik, maka paling tidak harus diperhatikan tujuh kriteria yang dibuat oleh Popham. Kriteria-kriteria tersebut antara adalah: (1) Generabilizy, artinya sejauh mana unjuk kerja peserta didik pada tugas yang dikerjakan berlaku untuk tugas yang sejenis, (2) Authenticity, artinya apakah tugas yang dikerjakan peserta didik sama atau setara dengan tugas yang ada didunia luar, (3) Multiple face, apakah tugas yang diberikan mengukur hasil pembelajaran yang banyak?, (4) Teachability, artinya apakah kemampuan atau keterampilan peserta didik meningkat sebagai akibat dari usaha guru dalam melaksanakan proses pembelajaran?, (5) Fairness, artinya apakah tugas yang diberikan kepada semua peserta didik cukup adil, tidak bias gender, etnik, status sosial ekonomi?, (6) Feasibility, artinya apakah tugas yang dikerjakan peserta didik realistik ditinjau dari biaya, ruang, waktu, dan perlatan yang dibutuhkan?, dan (7) Scorability, artinya apakah tugas yang diberikan akan memberikan hasil yang handal dan akurat?.[42] Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu.
Selain itu juga menurut Jihad dan Haris, hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam penilaian unjuk kerja yaitu, (1) langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi, (2) kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut, (3) kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, (4) upayakan kemampuan yang dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati, dan (5) kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.[43]
Seperti pada bentuk penilaian lainnya, penilaian unjuk kerja memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Marzano keuntungan dari penggunaan asesmen unjuk kerja adalah: (1) memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan keterampilan menemukan, (2) memberikan peluang untuk aplikasi-aplikasi pertanyaan-pertanyaan berakhir terbuka, (3) mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, (4) memberikan bukti mengenai apa yang dapat dilakukan siswa lakukan, dan (5) memberikan kesempatan untuk kreatifitas siswa.[44] Sedangkan kelemahannya menurut Enger & Yager adalah: (1) tugas-tugas asesmen ini biasanya sulit untuk diselesaikan dengan lengkap oleh siswa, (2) ada unsur subyektivitas dalam menilai kerja sisiwa, (3) memberikan banyak variasi performens yang biasanya berakhir terbuka, (4) menilai kinerja merupakan tugas yang spesifik, (5) perlu mengatur waktu dan kelompok dengan baik, (6) memerlukan waktu untuk merancang, mengimplementasikan dan mengevaluasi kinerja siswa, dan (7) sulit untuk merancang tugas dan rubrik dengan baik.[45]
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penilaian unjuk kerja merupakan salah satu penilaian alternatif yang difokuskan pada aktivitas observasi yakni proses berlangsungnya unjuk kerja dalam prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik siswa telah belajar dan evaluasi hasil karya. Penilaian bentuk ini dilakukan dengan mengamati saat siswa melakukan aktivitas dikelas atau membuat suatu karya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  1. Teknik Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan unjuk kerja.[46] Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen  berupa daftar cek (chek-list) dan skala penilaian (rating scala).
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-tidak, baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh peneliti. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan dari cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati, baik-tidak baik. dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar.
Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum dimana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sempurna. Misalnya: 1= tidak kompeten, 2= cukup kompoten, 3 = kompoten, dan 4 = sangat kompoten.

3.            penilaian tertulis

4.            penilaian produk


5.            penilaian sikap

6.            penilaian diri




B.   Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013

Jenis-jenis Penilaian Autentik pada kurikulum 2013 dibagi atas:
  1. Penilaian Kinerja
  2. Penilaian Proyek
  3. Penilaian Portofolio
  4. Penilaian Tertulis[47]

1.            Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
Berikut ini cara  merekam hasil penilaian berbasis kinerja.
1.         Daftar cek (checklist).
2.         Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
3.         Skala penilaian (rating scale).
4.         Memori atau ingatan (memory approach).

  1.  Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Berikut ini tiga hal yang  perlu diperhatian  guru dalam penilaian proyek.
1.    Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2.    Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
3.    Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.

3. Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
1.    Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
2.    Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
3.    Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
4.    Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
5.    Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
6.    Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
7.    Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.


4.    Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.


















DAFTAR PUSTAKA

Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Presindo,  2013),     h. 99.

Abdul Majid, Penilaian Autentik: Proses dan Hasil Belajar (Bandung: Remaja     Rosdakarya, 2014), h. 57.

Anthony J. Nitko, Educational Assessmen of Student (New Jersey: Meril, an imprint of     Prentince Hall, 2011), h. 4.
Basrowi dan Siskandar, Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja (Bandung: Karya Putra     Darwati, 2012), h. 11.
Bastari dan Witjaksono, Penilaian Projek (Jakarta: Pusat Pendidikan Balitbang     Depdiknas, 2006), h. 2.
Cecil R. Reynolds, Ronald B and Victor Wilson, Measurement and Assessment in     Educational (New Jersey: Pearson Educational, Inc., 2009), h. 2
Djaali dan Pudji Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan (Jakarta: Grasindo,     2008), hh. 2-3.

Djemari Mardaphi, Pengukuran, Penilaian & Evaluasi Pendidikan (Yogyakarta: Nuha     Medika, 2012), h. 166.

David A. Jacobsen, Paul Eggen, dan Donald Kauchak. Methods For Teaching,     Terjemahan Ahmad Fawaid & Khairul Anam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2009), h.     301.

Elaine B. Johnson, CTL: Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan     Belajar-   Mengajar Mengasikkan dan Bermakna, Terjemahan Ibnu Setiawan (Bandung:     Kaifa     Learning, 2010), hh. 288-289.

Hamzah B. Uno, Assessment Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 24.

Hari Setiadi, Penilain Kinerja (Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian     dan     Pengembangan Depdiknas, 2006), h. 1.

Kunandar, Penilaian Autentik: Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan    Kurikulum 2013 (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 41.

Kusaeri, Acuan & Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar Dalam Kurikulum 2013    (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), h. 156.

Mansur Muclish, Authentic Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi    (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), h. 75
Robert L. Linn, M. David Miller, dan Norman E. Gronlund, Measurement and Assessment     in Teaching    (New Jersey: Macmillan Publishing Company, 1995), 5.

S. Eko Putro Widoyoko, Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta: Pustaka     Pelajar, 2014), h. 4.

Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Tertulis Kurikulum 2004 (Bandung:     Rosdakarya, 2007), h. 12.

Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h. 89.

Suci Yuniati, “Assessmen kinerja (Performance Assessment) Dalam Pembelajaran     Matematika”,Jurnal Pemikiran Islam,  Vol 36, No 1, UIN Suska, 2011, hh. 44-46.     (http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/Anida/issue/view/84,) (diakses 5 Mei 2016)

S. Eko Putro Widoyoko, Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta, Pustaka     Pelajar, 2014), h. 72.

W. James Popham, Classroom Assessment: What Teacher Need to Know (Boston:     Allyn and Bacon, 1995), h. 141.






[1] Djaali dan Pudji Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan (Jakarta: Grasindo,     2008), hh. 2-3.
[2] Robert L. Linn, M. David Miller, dan Norman E. Gronlund, Measurement and Assessment     in Teaching    (New Jersey: Macmillan Publishing Company, 1995), 5.
[3] S. Eko Putro Widoyoko, Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta: Pustaka     Pelajar, 2014), h. 4.
[4] Cecil R. Reynolds, Ronald B and Victor Wilson, Measurement and Assessment in     Educational (New Jersey: Pearson Educational, Inc., 2009), h. 2
[5] Ibid., h. 3.
[6] Widoyoko, op. cit., h. 4.
[7] Djemari Mardaphi, Pengukuran, Penilaian & Evaluasi Pendidikan (Yogyakarta: Nuha     Medika, 2012), h. 166.
[8] Elaine B. Johnson, CTL: Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan     Belajar-   Mengajar Mengasikkan dan Bermakna, Terjemahan Ibnu Setiawan (Bandung:     Kaifa     Learning, 2010), hh. 288-289.
[9] David A. Jacobsen, Paul Eggen, dan Donald Kauchak. Methods For Teaching,     Terjemahan Ahmad Fawaid & Khairul Anam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2009), h.     301.
[10] Basrowi dan Siskandar, Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja (Bandung: Karya Putra     Darwati, 2012), h. 11.
[11] Kunandar, Penilaian Autentik: Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan    Kurikulum 2013 (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 41.
[12] Abdul Majid, Penilaian Autentik: Proses dan Hasil Belajar (Bandung: Remaja     Rosdakarya, 2014), h. 57.
[13] Mardapi, op. cit., h. 167.
[14] Ibid., h. 168
[15] Kunandar, op. cit., h. 42.
[16] Anthony J. Nitko, Educational Assessmen of Student (New Jersey: Meril, an imprint of     Prentince Hall, 2011), h. 4.
[17] Mansur Muclish, Authentic Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi    (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), h. 75.
[18] Hamzah B. Uno, Assessment Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 24.
[19] Kusaeri, Acuan & Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar Dalam Kurikulum 2013    (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), h. 156.
[20] Sumarna Surapranata, Panduan Penulisan Tes Tertulis Kurikulum 2004 (Bandung:     Rosdakarya, 2007), h. 12.
[21] Kusaeri, loc. cit.
[22] Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h. 89.
[23] Kusaeri, op. cit., hh. 157-158.
[24] Bastari dan Witjaksono, Penilaian Projek (Jakarta: Pusat Pendidikan Balitbang     Depdiknas, 2006), h. 2.
[25] Ibid., h. 11.
[26] Muhlich, op. cit., hh. 105-106.
[27] Uno, op. cit., hh. 279-280.
[28] Ibid., hh. 279-280.
[29] Uno, op. cit., h. 25.
[30] S. Eko Putro Widoyoko, Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta, Pustaka     Pelajar, 2014), h. 72.
[31] Sudaryono, op. cit., h. 74.
[32] Nitko, op. cit., h. 239.
[33] Abdul Majid, op. cit., h. 200.
[34] Kusaeri, op. cit., h. 142.
[35] Hari Setiadi, Penilain Kinerja (Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian     dan     Pengembangan Depdiknas, 2006), h. 1.
[36] Ibid., h. 1.
[37] Ibid., h. 74.
[38] Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Presindo,  2013),     h. 99.
[39] W. James Popham, Classroom Assessment: What Teacher Need to Know (Boston:     Allyn and Bacon, 1995), h. 141.
[40] Suci Yuniati, “Assessmen kinerja (Performance Assessment) Dalam Pembelajaran     Matematika”,Jurnal Pemikiran Islam,  Vol 36, No 1, UIN Suska, 2011, hh. 44-46.     (http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/Anida/issue/view/84,) (diakses 15 Desember     2015)
[41] Widoyoko, op. cit., hh. 73-74
[42] Sudaryono, op. cit., hh. 75-76.
[43] Asep Jihad dan Abdul Haris, op. cit., h. 99
[44] Yuniarti, op. cit., 48.
[45] Ibid., h. 47.
[46] Uno, op. cit., h. 19.
[47] Materi Diklat K13. Bahan Pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan kebudayaan dan jaminan mutu pendidikan. LPMP Malut 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar